INDIKASI
Untuk mengeluarkan cairan, serumen, bahan-bahan asing dari kanal audiotory eksternal.
Untuk mengirigasi kanal audiotory eksternal dengan lartutan antiseptic.
Untuk menghangatkan atau mendinginkan kanal audiotory eksterna.
PERHATIAN DAN KONTRA INDIKASI
Perforasi membran timpani atau resiko tidak utuh (injurie sekunder, pembedahan, miringitomi).
Terjadi komplikasi sebelum irigasi.
Temperatur yg ekstrim panas dapat menyebabkan pusing, mual dan muntah.
Bila ada benda penghisap air dalam telinga, seperti bahan sayuran (kacang), jangan diirigasi karena bahan2 tsb mengmbang dan sulit dikeluarkan.
PERSIAPAN KLIEN
Atur posisi klien dengan memiringkan kepala ke arah telinga.
Lindungi pakaian klien dengan handuk/bahan tahan air.
PERSIAPAN ALAT
Otologik syringe (metal) atau syringe 60 ml ukuran 18 atau 20 G, dan untuk anak-anak. (waterpik)
Baskom.
Handuk/alas tahan air.
Baskom/bengkok untuk muntah.
Otoskop.
Sarung tangan.
Termometer.
Kapas/kassa.
Cooton Tip (untuk anak-anak).
PERTIMBANGAN KHUSUS
Kanal telinga anak-anak lebih kecil.
Tarik aurikel ke bawah dan kebelakang.
Anak-anak posisi supinasi bila perlu di resraint untuk menghindari pergerkan.
Untuk mengurangi ansieas jelaskan prosedur dan izinkan anak-anak untuk menyentuh air atau mendengarkan suara air.
KOMPLIKASI
Vertigo, mual, nyeri selama dan setelah prosedur, stop segera bila terjadi, kemudian ulangi lagi dan pastikan tekanan dan temperatur yang cocok untuk mencegah berulangnya gejala.
Ruptur membran timpani.
Kehilangan pendengaran.
Trauma/injury kanal teling dalam.
P R O S E D U R
Bersihkan telinga luar.
Periksa telinga dg otoskop sebelum melakukan irigasi.
Isikan cairan irigasi ke dalam syringe (tarik/sedot) dan buang udara dlm syringe. Larutan bisa air, atau campuran air dan hidroegn peroksida, cairan disesuaikan dengan temperatur tubuh, cek dengan pergelangan tangan bagian dalam/gunakan termometer.
Minta klien untuk memegang bengkok.
Tarik aurikel ke atas dan keluarà telinga superior dan posterior (dewasa), tarik aurikel posterior dan inferior (anak di atas 3 tahun).
Lakukan irigasi dengan perlahan untuk mengurangi peningkatan tekanan.
Setelah irigasi , inspeksi kanal telinga untuk melihat kemajuan dari tindakan atau cek cairan irigasi yang keluar dari seruemn atau benda-benda asing
Ulangi irigasi sesuai kebutuhan, istirahatkan klien diantara irigasi.
Keringkan telingan dengan kapas, taruh kapas 5-10 menit untuk absorb dari kemungkinan lembab.
PENDIDIKAN KESEHATAN
Laporkan bila ada nyeri, mual, pusing, atau hilang pendengaran selama atau setelah prosedur.
Bersihkan telinga luar dengan menggunakan kain, sabun Dan air setiap hari.
Jangan memasukkan bahan-bahan ke dalam telinga.
Referensi:
Proehl JA (1999). Emergency Nursing Procedures (2 nd Edition). Philadelphia: W.B. Saunders Company
Rabu, 30 September 2009
Selasa, 08 September 2009
FORMAT PENGKAJIAN BAYI
I. BIODATA
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku/bangsa
Pendidikan
Tanggal masuk RS
Tanggal Pengkajian
Diagnosa Medis
Alamat
Identitas Penanggung jawab
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Suku/bangsa
Pendidikan Ayah
Pendidikan Ibu
Hubungan dengan Klien
Alamat
II. KELUHAN UTAMA
III. RIWAYAT KESEHATAN
A. Riwayat Kehamilan dan kelahiran
1. Prenatal :
Jumlah kunjungan
Bidan/dokter
Penkes yang didapat
HPHT
Kenaikan BB selama hamil
Komplikasi kehamilan
Komplikasi obat
Riwayat hospitalisasi
Gol. Darah ibu
Maternal screening : Rubella, hepatitis, CMV, herpes, HIV, dll sebutkan
2. Intranatal :
Awal persalinan
Lama persalinan
Komplikasi persalinan
Terapi yang diberikan
Cara melahirkan
Tempat melahirkan
3. Pos Natal :
Usaha napas (dengan bantuan/tanpa bantuan)
Kebutuhan resusitasi (jenis & lamanya)
APGAR Score
Obat yang diberikan pada neonatus
Interaksi orang tua dan bayi (kualitas, lamanya),
Trauma lahir (ada/tidak)
Keluar urine/feses (ada/tidak).
B. Riwayat imunisasi
IV. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesadaran :
Vital sign :
GCS :
2. Antropometri
Berat badan :
Panjang badan :
Lingkar kepala :
3. Kepala :
Kebersihan
Bentuk Kepala
Keadaan rambut
Keadaan kulit kepala
Fontanela anterior (lunak, menonjol, tegas, cekung, datar ?)
Sutura sagitalis (tepat, terpisah, menjauh ?)
Gambaran wajah (simetris, asimetris?)
Molding (Caput succedaneum), Cefalohematom?)
4. Mata :
Kebersihan
Peradangan
Scelera
Pupil
Gerak bola mata
Konjungtiva
5. Hidung :
Kebersihan
Struktur
Polip
Perdarahan
Peradangan
6. Telinga :
Kebersihan
Struktur
Cairan
Tanda peradangan
7. Mulut :
Kebersihan
Problem menelan
Rongga mulut (Palatum keras dan lunak?)
Fungsi pengecap
8. Leher :
Vena jugularis
Arteri karotis
Pembesaran tiroid
Pembesaran limfe
9. Dada :
Bentuk dada
Pergerakan/pengembangan torak
Batuk
Sputum
Resonansi
Bunyi napas
Bunyi napas tambahan
10. Jantung :
Denyut jantung
Bunyi jantung
11. Abdomen :
Lingkar perut
Warna kulit
Bunyi peristaltic
Keadaan permukaan abdomen
Pembesaran abdomen
12. Genitalia :
Kebersihan
Keadaan kelamin luar
Anus (paten, imperforata?)
13. Ekstrimitas atas dan bawah :
Struktur
Kekuatan otot
Trauma
14. Kulit :
Kebersihan
Struktur
Turgor
Warna
Kelembaban
Lesi
14. Refleks
Menghisap
Menggenggam
Moro
Rooting
Tonik neck
V. KEBUTUHAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL
1. Nutrisi
Frekuensi, waktu makan, nafsu makan, jenis makanan, makanan alergi/pantangan
Di RS :
2. Eliminasi (BAB/BAK)
Frekuensi, warna, konsistensi, keluhan berhubungan dengan BAK/BAB, penggunaan laxantif/obat lain
Di RS :
3. Personal hygine
Mandi, cuci rambut
Di RS :
4. Istirahat/tidur
Lama, tidur siang
Di RS :
5. Aktivitas
Kegiatan waktu luang
Di RS
6. Psikososial
a. Bagaimana hubungan klien dengan tenaga kesehatan/keperawatan selama dirawat
b. Hubungan dengan orang tua
Ibu Ayah
Menyentuh
Memeluk
Berbicara
Berkunjung
Kontak mata
VI. DATA PENUNJANG
1. Radiologi
2. Laboratorium
3. Pemeriksaan lainnya
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku/bangsa
Pendidikan
Tanggal masuk RS
Tanggal Pengkajian
Diagnosa Medis
Alamat
Identitas Penanggung jawab
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Suku/bangsa
Pendidikan Ayah
Pendidikan Ibu
Hubungan dengan Klien
Alamat
II. KELUHAN UTAMA
III. RIWAYAT KESEHATAN
A. Riwayat Kehamilan dan kelahiran
1. Prenatal :
Jumlah kunjungan
Bidan/dokter
Penkes yang didapat
HPHT
Kenaikan BB selama hamil
Komplikasi kehamilan
Komplikasi obat
Riwayat hospitalisasi
Gol. Darah ibu
Maternal screening : Rubella, hepatitis, CMV, herpes, HIV, dll sebutkan
2. Intranatal :
Awal persalinan
Lama persalinan
Komplikasi persalinan
Terapi yang diberikan
Cara melahirkan
Tempat melahirkan
3. Pos Natal :
Usaha napas (dengan bantuan/tanpa bantuan)
Kebutuhan resusitasi (jenis & lamanya)
APGAR Score
Obat yang diberikan pada neonatus
Interaksi orang tua dan bayi (kualitas, lamanya),
Trauma lahir (ada/tidak)
Keluar urine/feses (ada/tidak).
B. Riwayat imunisasi
IV. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesadaran :
Vital sign :
GCS :
2. Antropometri
Berat badan :
Panjang badan :
Lingkar kepala :
3. Kepala :
Kebersihan
Bentuk Kepala
Keadaan rambut
Keadaan kulit kepala
Fontanela anterior (lunak, menonjol, tegas, cekung, datar ?)
Sutura sagitalis (tepat, terpisah, menjauh ?)
Gambaran wajah (simetris, asimetris?)
Molding (Caput succedaneum), Cefalohematom?)
4. Mata :
Kebersihan
Peradangan
Scelera
Pupil
Gerak bola mata
Konjungtiva
5. Hidung :
Kebersihan
Struktur
Polip
Perdarahan
Peradangan
6. Telinga :
Kebersihan
Struktur
Cairan
Tanda peradangan
7. Mulut :
Kebersihan
Problem menelan
Rongga mulut (Palatum keras dan lunak?)
Fungsi pengecap
8. Leher :
Vena jugularis
Arteri karotis
Pembesaran tiroid
Pembesaran limfe
9. Dada :
Bentuk dada
Pergerakan/pengembangan torak
Batuk
Sputum
Resonansi
Bunyi napas
Bunyi napas tambahan
10. Jantung :
Denyut jantung
Bunyi jantung
11. Abdomen :
Lingkar perut
Warna kulit
Bunyi peristaltic
Keadaan permukaan abdomen
Pembesaran abdomen
12. Genitalia :
Kebersihan
Keadaan kelamin luar
Anus (paten, imperforata?)
13. Ekstrimitas atas dan bawah :
Struktur
Kekuatan otot
Trauma
14. Kulit :
Kebersihan
Struktur
Turgor
Warna
Kelembaban
Lesi
14. Refleks
Menghisap
Menggenggam
Moro
Rooting
Tonik neck
V. KEBUTUHAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL
1. Nutrisi
Frekuensi, waktu makan, nafsu makan, jenis makanan, makanan alergi/pantangan
Di RS :
2. Eliminasi (BAB/BAK)
Frekuensi, warna, konsistensi, keluhan berhubungan dengan BAK/BAB, penggunaan laxantif/obat lain
Di RS :
3. Personal hygine
Mandi, cuci rambut
Di RS :
4. Istirahat/tidur
Lama, tidur siang
Di RS :
5. Aktivitas
Kegiatan waktu luang
Di RS
6. Psikososial
a. Bagaimana hubungan klien dengan tenaga kesehatan/keperawatan selama dirawat
b. Hubungan dengan orang tua
Ibu Ayah
Menyentuh
Memeluk
Berbicara
Berkunjung
Kontak mata
VI. DATA PENUNJANG
1. Radiologi
2. Laboratorium
3. Pemeriksaan lainnya
FORMAT PENGKAJIAN ANAK
I. BIODATA
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku/bangsa
Pendidikan
Tanggal masuk RS
Tanggal Pengkajian
Diagnosa Medis
Alamat
Identitas Penanggung jawab
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Suku/bangsa
Pendidikan Ayah
Pendidikan Ibu
Hubungan dengan Klien
Alamat
II. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan Utama
Keluhan Saat MRS
Keluahan saat Pengkajian
B. Riwayat Penyakit Sekarang
C. Riwayat Penyakit Dahulu
D. Riwayat Penyakit Keluarga
(disertai Genogram)
III. RIWAYAT KESEHATAN
A. Riwayat Kehamilan dan kelahiran
1. Prenatal :
Jumlah kunjungan, bidan/dokter, penkes yang didapat, HPHT, kenaikan BB selama hamil, komplikasi kehamilan, komplikasi obat, riwayat hospitalisasi, gol. Darah, screening : Rubella, hepatitis, CMV, herpes, HIV, dll sebutkan
2. Intranatal :
Awal persalinan, lama persalinan, komplikasi persalinan, terapi yang diberikan, cara melahirkan, tempat melahirkan.
3. Pos Natal :
Usaha napas (dengan bantuan/tanpa bantuan), kebutuhan resusitasi (jenis & lamanya, scor APGAR), obat yang diberikan pada neonatus, interaksi orang tua dan bayi (kualitas, lamanya), trauma lahir (ada/tidak), keluar urine/feses (ada/tidak).
B. Riwayat sosial
1. Yang mengasuh :……………….
2. Hubungan dengan anggota keluarga:……………….
3. Hubungan dengan teman sebaya :……………….
4. Pembawaan secara umum :……………….
5. Lingkungan rumah :……………….
C. Riwayat Tumbuh Kembang
1. Kemandirian dan bergaul………………….
2. Motorik halus……………………………..
3. Motorik kasar …………………………….
4. Kognitif dan bahasa ………………………
D. Riwayat imunisasi
IV. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesadaran :
Vital sign :
GCS :
2. Kepala :
Kebersihan
Bentuk Kepala
Keadaan rambut
Keadaan kulit kepala
Nyeri kepala/pusing
3. Mata :
Kebersihan
Ketajaman penglihatan/visus (sesuaikan usia anak )
Peradangan
Scelera
Pupil
Gerak bola mata
Konjungtiva
Lapang pandang
Reflek kornea
Rasa nyeri
Pemakaian alat Bantu : Kaca mata, lensa kontak ?
4. Hidung :
Kebersihan
Struktur
Polip
Sinus
Perdarahan
Peradangan
Fungsi penciuman
5. Telinga :
Kebersihan
Struktur
Nyeri
Cairan
Tanda peradangan
Fungsi pendengaran
6. Mulut :
Kebersihan
Keadaan gigi
Problem menelan
Bicara
Rongga mulut
Fungsi mengunyah
Fungsi pengecap
7. Leher :
Vena jugularis
Arteri karotis
Pembesaran tiroid
Pembesaran limfe
8. Dada :
Bentuk dada
Pergerakan/pengembangan torak
Batuk
Sputum
Vokal premitus
Resonansi
Bunyi napas
Bunyi napas tambahan
9. Jantung :
Ukuran jantung
Dengut jantung
Nyeri dada
Palpitasi
Bunyi jantung
10. Abdomen :
Warna kulit
Bunyi peristaltic
Keadaan permukaan abdomen
Pembesaran abdomen
Nyeri tekan
11. Genitalia :
Kebersihan
Keadaan kelamin luar
Keadaan kandung kemih
Pembesaran kelenjar
12. Ekstrimitas atas dan bawah :
Struktur
Kekuatan otot
Tonus otot
Kekakuan sendi
Trauma
Nyeri
Pola aktivitas
Protesa
13. Kulit :
Kebersihan
Struktur
Turgor
Warna
Kelembaban
Lesi
V. KEBUTUHAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL
1. Nutrisi
Frekuensi, waktu makan, nafsu makan, jenis makanan dirumah, makanan yang tidak disukai/alergi/pantangan, kebiasaan sebelum makan
Dirumah :
Di RS :
2. Eliminasi (BAB/BAK)
Frekuensi, warna, konsistensi, keluhan berhubungan dengan BAK/BAB, penggunaan laxantif/obat lain
Dirumah :
Di RS :
3. Personal hygine
Mandi, oral hygine, cuci rambut
Dirumah :
Di RS :
4. Istirahat/tidur
Lama, tidur siang, kebiasaan sebelum tidur, keluhan/masalah
Dirumah :
Di RS :
5. Aktivitas
Kegiatan waktu luang, keluhan dalam beraktivitas
Dirumah :
Di RS :
6. Psikososial
a. Masalah yang mempengaruhi pasien…….
b. Persepsi pasien terhadap penyakitnya
Hal yang sangat difikirkan saat ini……..
Harapan setelah menjalani perawatan………
Perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit…….
c. Mekanisme koping terhadap stres………
d. Dampak penyakit pasien terhadap keluarga………
e. Pola interaksi dengan orang terdekat…….
f. Bagaimana hubungan klien dengan tenaga kesehatan/keperawatan selama dirawat
VI. KEBUTUHAN SPIRITUAL
Agama yang dianut :
Kegiatan spiritual yang dilakukan :
Dampak penyakit terhadap kegiatan spiritual :
VII. DATA PENUNJANG
1. Radiologi
2. Laboratorium
3. Pemeriksaan lainnya
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku/bangsa
Pendidikan
Tanggal masuk RS
Tanggal Pengkajian
Diagnosa Medis
Alamat
Identitas Penanggung jawab
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Suku/bangsa
Pendidikan Ayah
Pendidikan Ibu
Hubungan dengan Klien
Alamat
II. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan Utama
Keluhan Saat MRS
Keluahan saat Pengkajian
B. Riwayat Penyakit Sekarang
C. Riwayat Penyakit Dahulu
D. Riwayat Penyakit Keluarga
(disertai Genogram)
III. RIWAYAT KESEHATAN
A. Riwayat Kehamilan dan kelahiran
1. Prenatal :
Jumlah kunjungan, bidan/dokter, penkes yang didapat, HPHT, kenaikan BB selama hamil, komplikasi kehamilan, komplikasi obat, riwayat hospitalisasi, gol. Darah, screening : Rubella, hepatitis, CMV, herpes, HIV, dll sebutkan
2. Intranatal :
Awal persalinan, lama persalinan, komplikasi persalinan, terapi yang diberikan, cara melahirkan, tempat melahirkan.
3. Pos Natal :
Usaha napas (dengan bantuan/tanpa bantuan), kebutuhan resusitasi (jenis & lamanya, scor APGAR), obat yang diberikan pada neonatus, interaksi orang tua dan bayi (kualitas, lamanya), trauma lahir (ada/tidak), keluar urine/feses (ada/tidak).
B. Riwayat sosial
1. Yang mengasuh :……………….
2. Hubungan dengan anggota keluarga:……………….
3. Hubungan dengan teman sebaya :……………….
4. Pembawaan secara umum :……………….
5. Lingkungan rumah :……………….
C. Riwayat Tumbuh Kembang
1. Kemandirian dan bergaul………………….
2. Motorik halus……………………………..
3. Motorik kasar …………………………….
4. Kognitif dan bahasa ………………………
D. Riwayat imunisasi
IV. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesadaran :
Vital sign :
GCS :
2. Kepala :
Kebersihan
Bentuk Kepala
Keadaan rambut
Keadaan kulit kepala
Nyeri kepala/pusing
3. Mata :
Kebersihan
Ketajaman penglihatan/visus (sesuaikan usia anak )
Peradangan
Scelera
Pupil
Gerak bola mata
Konjungtiva
Lapang pandang
Reflek kornea
Rasa nyeri
Pemakaian alat Bantu : Kaca mata, lensa kontak ?
4. Hidung :
Kebersihan
Struktur
Polip
Sinus
Perdarahan
Peradangan
Fungsi penciuman
5. Telinga :
Kebersihan
Struktur
Nyeri
Cairan
Tanda peradangan
Fungsi pendengaran
6. Mulut :
Kebersihan
Keadaan gigi
Problem menelan
Bicara
Rongga mulut
Fungsi mengunyah
Fungsi pengecap
7. Leher :
Vena jugularis
Arteri karotis
Pembesaran tiroid
Pembesaran limfe
8. Dada :
Bentuk dada
Pergerakan/pengembangan torak
Batuk
Sputum
Vokal premitus
Resonansi
Bunyi napas
Bunyi napas tambahan
9. Jantung :
Ukuran jantung
Dengut jantung
Nyeri dada
Palpitasi
Bunyi jantung
10. Abdomen :
Warna kulit
Bunyi peristaltic
Keadaan permukaan abdomen
Pembesaran abdomen
Nyeri tekan
11. Genitalia :
Kebersihan
Keadaan kelamin luar
Keadaan kandung kemih
Pembesaran kelenjar
12. Ekstrimitas atas dan bawah :
Struktur
Kekuatan otot
Tonus otot
Kekakuan sendi
Trauma
Nyeri
Pola aktivitas
Protesa
13. Kulit :
Kebersihan
Struktur
Turgor
Warna
Kelembaban
Lesi
V. KEBUTUHAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL
1. Nutrisi
Frekuensi, waktu makan, nafsu makan, jenis makanan dirumah, makanan yang tidak disukai/alergi/pantangan, kebiasaan sebelum makan
Dirumah :
Di RS :
2. Eliminasi (BAB/BAK)
Frekuensi, warna, konsistensi, keluhan berhubungan dengan BAK/BAB, penggunaan laxantif/obat lain
Dirumah :
Di RS :
3. Personal hygine
Mandi, oral hygine, cuci rambut
Dirumah :
Di RS :
4. Istirahat/tidur
Lama, tidur siang, kebiasaan sebelum tidur, keluhan/masalah
Dirumah :
Di RS :
5. Aktivitas
Kegiatan waktu luang, keluhan dalam beraktivitas
Dirumah :
Di RS :
6. Psikososial
a. Masalah yang mempengaruhi pasien…….
b. Persepsi pasien terhadap penyakitnya
Hal yang sangat difikirkan saat ini……..
Harapan setelah menjalani perawatan………
Perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit…….
c. Mekanisme koping terhadap stres………
d. Dampak penyakit pasien terhadap keluarga………
e. Pola interaksi dengan orang terdekat…….
f. Bagaimana hubungan klien dengan tenaga kesehatan/keperawatan selama dirawat
VI. KEBUTUHAN SPIRITUAL
Agama yang dianut :
Kegiatan spiritual yang dilakukan :
Dampak penyakit terhadap kegiatan spiritual :
VII. DATA PENUNJANG
1. Radiologi
2. Laboratorium
3. Pemeriksaan lainnya
GERAK REFLEKS
1. TEORI
Baik disadari maupun tidak,tubuh kita selalu melakukan gerak. Bahkanseseorang yang tidak memiliki kesempurnaan pun akan tetap melakukan gerak. Saat kita tersenyum,mengedipkan mata atau bernapas sesungguhnya telah terjadi gerak yang disebabkanoleh kontrasi otot.
Gerak terjadi begitu saja. Gerak terjadi melalui mekanisme rumit dan melibatkan banyak bagian tubuh.Terdapat banyak komponen – komponen tubuh yang terlibat dalam grak iniBaik itu disadari maupun tidak disadari.
Gerak adalah suatu tanggapan tehadap rangsangan baik itu dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf.
Dan dalam melakukan gerak tubuh kita melakukan banyak koordinasi dengan perangkat tubuh yang lain.Hal ini menunjukkan suatu kerja sama yang siergis.
Kita dapat bayangkan diri kita berada dalam sebuah lorong yang gelap Semua indera kita pun akan siap siaga.Telinga pasti akan mendengar segala sesuatu sehalus apa pun. Kemudian kita menabrak sesuatu. Dalam keadaan seperti itu diri kita pasti refleks melompat bahkan akan menjerit.Denyut jantung akan cepat dan secara refeks kita pun berlari. Begitulah salah satu contoh gerak refleks yang terjadi pada diri kita.
Seluruh mekanisme gerak yang terjadi di tubuh kita tak lepas dari peranan system saraf. Sistem saraf ini tersusun atas jaringan saraf yang di dalamnya terdapat sel-sel saraf atau neuron. Meskipun system saraf tersusun dengan sangat kompleks,tetapi sebenarnya hanya tersusun atas 2 jenis sel,yaitu sel saraf dan sel neuroglia.
Adapun berdasarkan fungsinya system saraf itu sendiri dapat dibedakan atas tiga jenis :
1. Sel saraf sensorik
Sel saraf sensorik adalah sel yang membawa impuls berup rangsangan dari reseptor (penerima rangsangan), ke system saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang).SEl saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indera,karena berhubungan dengan alat indra.
2. Sel saraf Motorik
SEl saraf motorik berfungsi membawa impuls berupa tanggapan dari susunan saraf pusat (otak atau sumsum tulang belakang) menuju to atau kelenjar tubuh. Sel saraf motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak,karena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.
3. Sel saraf penguhubung
Sel saraf penguhubung disebut juga dengan sel saraf konektor,hal ini disebabkan karena fungsinya meneruskan rangsangan dari sel saraf sensorik ke sel saraf motorik.
Namun pada hakikatnya sebenarnya system saraf terbagi menjadi du kelompok besar :
1. Sistem saraf sadar
Adalah system saraf yang mengatu tau mengkoordinasikan semua kegiatan yang dapat diatur menurut kemauan kita.Contohnya,melempar bola,berjalan,berfikir,menulis,berbicara dan lain-lain.
Saraf sadar pun terbagi menjadi dua :
a.Saraf pusat
terdiri dari :
- Otak
Merupakan pusat kesadaran,yang letaknya di rongga tengkorak.
- Sumsum tulang belakang
Sumsum tulang belakang berfungsi menghantarkan impuls (rangsangan) dari dan ke otak,serta mengkoordinasikan gerak refleks. Letaknya pada ruas-ruas tulang belakang,yakni dari ruas – ruas tulag leher hingga ke ruas-ruas tulang pinggang yang kedua. Dan dalam sumsum ini terdapat simpul – simpul gerak refleks.
b. Saraf Tepi
Sistem saraf tepi terdiri dari sarfa-saraf yang berada di luar system saraf pusat (otak dan sumsum ulang belakang). Artinya system saraf tepi merupakan saraf yang menyebar pada seluruh bagian tubuh yang melayani organ-organ tubh tertentu,sepeti kulit,persendian,otot,kelenjar,saluran darah dan lain-lain.
2. Susunan saraf tak sadar.
- Susunan saraf simpatis
- Susunan saraf parasimpatis
Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk. Dimana gerak refleks ini merupakan gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen dari neuron sensorik ,interneuron, dan neuron motorik, yang mengalirkan impuls saraf untuk tipe refleks tertentu. Gerak refleks yang paling sederhanahanya memerlukandua tipe sel saraf, yaitu neuron sensorik dan neuron motorik. Gerak refleks bekerja bukanlah dibawah kesadaran dan kemauan seseorang.
Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut
.
Kemudian bagaimanakah mekanisme gerak refleks dalam tubuh kita?
Gerak refleks adalah gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensor,interneuron,dan neuron motor,yang mngalirkan impuls saraf untuk tipe reflek tertentu.Gerak refleks yang paling sederhana hanya memerlukan dua tipe sel sraf yaitu neuron sensor dan neuron motor.
Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Misalnya bila kaki menginjak paku,secara otomatis kita akan menarik kaki dan akan berteriak. Refleks juga terjadi ketika kita membaui makanan enak , dengan keluarnya air liur tanpa disadari. Berikut skema gerak refleks:
Gerak refleks terjadi apabila rangsangan yang diterima oleh saraf sensori langsung disampaikan oleh neuron perantara (neuron penghubung).Hal ini berbeda sekali dengan ekanisme gerak biasa.
Gerak biasa rangsangan akan diterimaleh saraf sensorik dan kemudian disampaikan langsung ke ota. Dari otak kemudian dikeluarkan perintah ke saraf motori sehingga terjadilah gerakan. Artinya pada gerak biasa gerakan itu diketahui atu dikontrol oleh otak. Sehingga oleh sebab itu gerak biasa adalah gerak yang disaari.
2. PELAKSANAAN PRATIKUM
A. Waktu dan Tempat
Waktu : kamis, 27 Desember 2007
Tempat : Ruangan Labor dasar Biologi Umum
B. Alat dan Bahan
- mistar/penggaris dengan panjang 30 cm
(digunakan untuk mengukur kecepatan gerak reflek seseorang)
C. Cara Kerja
• Dalam ratikum ini diperlukan 2 orang praktikan.
• Kedua praktikan dalam posisi yang berhadapan.
• Praktikan pertama memegang mistar 30 cm dengan menjepitkannya di antara ibu jari dan telunjuk.
• Penggaris dipegang setinggi mata rekan kerjanya.
• Praktikan kedua memposisikan tangan di bawah,agar dapat menangkap mistar yang akan dijatuhkan.
• Penggaris dijatuhkan,dengan syarat praktikan kedua tidak boleh melihat arah jatuhnya mistar.
• Kemudian praktikan kedua menangkap mistar tersebut dengan refleks,dan apabila tidak dapat ditangkap maka percobaan diulangi lagi sehingga mistar tersebut dapat ditangkap.
• Catat angka yang tertera di mistar yang tertanggap oleh pegangan kita.
• Lakukan sebanyak 5 kali percobaan.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Percobaan I
Nama Praktikan : Tomi Anugrah Pratama
No.BP : 07 133 022
1 = 21 cm cepat 4 = 2 cm lambat
2 = 29 cm cepat 5 = 8,5 cm cepat
3 = 10 cm cepat
Rata-rata : 14,1 cepat
Percobaan II
Nama Praktikan : Febryansyah
No.BP : 06 933 030
1 =25 cm cepat 4 = 22 cm cepat
2 = 21 cm cepat 5 = 20 cm cepat
3 = 19 cm cepat
Rata-rata : 21,4 cepat
3.2 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan sebanyak 5 kali dari tiap – tiap praktikan yang berbeda. Hasil percobaan pertama yang dilkukan pada Tomi Anugrah Pratama,didapat harga rata-rata gerak refleknya yang cepat ( 14,1 ),Sedangkan untuk praktikan yang kedua nilainya lebih besar lagi ( 21,4 ).Ini menandakan gerak reflek pada kelompok 3 dapat dikategorikan gerak refleknya cepat.
Cepatnya gerak reflek seseorang apabila memiliki nilai diatas 0,5 dari panjang penggaris (30 cm). jadi jika praktikkan memiliki nilai rata-rata gerak refleknya dibawah dari 15 maka ia dikatakan memiliki gerak reflek yang lambat, dan sebaliknya jika hasil rata-rata perhitungan gerak reflek yang di dapat diatas 15 maka dapat dikatakan ia memiliki gerak reflek yang cepat.
Praktikan sendiri menganalisa bahwa terdapat perbedaan kecepatan gerak reflek seseorang. Hal ini sangat terkait denga syaraf-syarafnya dan pembiasaan diri terhdap lingkungan luar.Ada praktikan yang dari awal cepat,namun di akhir angka yang didapat semakin menurun. Dan ada juga sebalikny. Bahkahn ada yang dari awal sampai akhir lambat
4. KESIMPULAN
Data yang diperoleh pada kelompom 3 sangat berbeda dan bervariasi. Nilai yang didapatkan berbeda-beda, dan dapat dikatakan bahwa gerak reflek disebabkan karena pengaruh ransangan yang datang dari luar tubuh dimana jalannya tidak sampai ke otak. Pada umunya gerak refleks berlangsung terhadap stimulus dari luar dan berlangsung dengan cepat atau tiba-tiba. Gerakan terjadi juga diluar kesadaran kita (tidak didasarkan kemauan).
Seperti yang telah dijelaskan pada bab teori diatas,jalan dari gerak reflak ini adalah mulai dari stimulus diterima reseptor, kmudian impus tersebut dibawa oleh saraf sensorik menuju sum-sum tulang belakang, kemudian impul dilanjutkan oleh saraf motorik, kemudian diterima oleh efektor maka terjadilah respon/tanggapan.
Pada percobaan yang dilakukan, yang menjadi stimulus adalah mistar yang dijatuhkan ke tangan praktikan. Mistar akan tertangkap dengan cepat,dalam artian dapat tertangkap bagian terbesar darimistar tersebut. Maka praktikan memiliki suatu refleks yang cepat terhadap mistar yang dijatuhkan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Amien,M.1987.Makhluk Hidup.Jakarta:PN Balai Pustka.
Hadisumarto,Suhargono.1997.Biologi-2b.Jakarta:Bumi Aksara.
Keeton,William T.1980.Biology Science.Library of Congress in Publication Krass.
Kimbal,John W.1983.Biology 3rd ed.Addison Wesley.
Syamsuri,Istamar.2004.Biologi SMA kelas XI.Jakarta : Erlangga.
Wilarso,joko.2001.BIOLOGI PENDIDIKAN DASAR.Jakarta:Erlangga.
Baik disadari maupun tidak,tubuh kita selalu melakukan gerak. Bahkanseseorang yang tidak memiliki kesempurnaan pun akan tetap melakukan gerak. Saat kita tersenyum,mengedipkan mata atau bernapas sesungguhnya telah terjadi gerak yang disebabkanoleh kontrasi otot.
Gerak terjadi begitu saja. Gerak terjadi melalui mekanisme rumit dan melibatkan banyak bagian tubuh.Terdapat banyak komponen – komponen tubuh yang terlibat dalam grak iniBaik itu disadari maupun tidak disadari.
Gerak adalah suatu tanggapan tehadap rangsangan baik itu dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf.
Dan dalam melakukan gerak tubuh kita melakukan banyak koordinasi dengan perangkat tubuh yang lain.Hal ini menunjukkan suatu kerja sama yang siergis.
Kita dapat bayangkan diri kita berada dalam sebuah lorong yang gelap Semua indera kita pun akan siap siaga.Telinga pasti akan mendengar segala sesuatu sehalus apa pun. Kemudian kita menabrak sesuatu. Dalam keadaan seperti itu diri kita pasti refleks melompat bahkan akan menjerit.Denyut jantung akan cepat dan secara refeks kita pun berlari. Begitulah salah satu contoh gerak refleks yang terjadi pada diri kita.
Seluruh mekanisme gerak yang terjadi di tubuh kita tak lepas dari peranan system saraf. Sistem saraf ini tersusun atas jaringan saraf yang di dalamnya terdapat sel-sel saraf atau neuron. Meskipun system saraf tersusun dengan sangat kompleks,tetapi sebenarnya hanya tersusun atas 2 jenis sel,yaitu sel saraf dan sel neuroglia.
Adapun berdasarkan fungsinya system saraf itu sendiri dapat dibedakan atas tiga jenis :
1. Sel saraf sensorik
Sel saraf sensorik adalah sel yang membawa impuls berup rangsangan dari reseptor (penerima rangsangan), ke system saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang).SEl saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indera,karena berhubungan dengan alat indra.
2. Sel saraf Motorik
SEl saraf motorik berfungsi membawa impuls berupa tanggapan dari susunan saraf pusat (otak atau sumsum tulang belakang) menuju to atau kelenjar tubuh. Sel saraf motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak,karena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.
3. Sel saraf penguhubung
Sel saraf penguhubung disebut juga dengan sel saraf konektor,hal ini disebabkan karena fungsinya meneruskan rangsangan dari sel saraf sensorik ke sel saraf motorik.
Namun pada hakikatnya sebenarnya system saraf terbagi menjadi du kelompok besar :
1. Sistem saraf sadar
Adalah system saraf yang mengatu tau mengkoordinasikan semua kegiatan yang dapat diatur menurut kemauan kita.Contohnya,melempar bola,berjalan,berfikir,menulis,berbicara dan lain-lain.
Saraf sadar pun terbagi menjadi dua :
a.Saraf pusat
terdiri dari :
- Otak
Merupakan pusat kesadaran,yang letaknya di rongga tengkorak.
- Sumsum tulang belakang
Sumsum tulang belakang berfungsi menghantarkan impuls (rangsangan) dari dan ke otak,serta mengkoordinasikan gerak refleks. Letaknya pada ruas-ruas tulang belakang,yakni dari ruas – ruas tulag leher hingga ke ruas-ruas tulang pinggang yang kedua. Dan dalam sumsum ini terdapat simpul – simpul gerak refleks.
b. Saraf Tepi
Sistem saraf tepi terdiri dari sarfa-saraf yang berada di luar system saraf pusat (otak dan sumsum ulang belakang). Artinya system saraf tepi merupakan saraf yang menyebar pada seluruh bagian tubuh yang melayani organ-organ tubh tertentu,sepeti kulit,persendian,otot,kelenjar,saluran darah dan lain-lain.
2. Susunan saraf tak sadar.
- Susunan saraf simpatis
- Susunan saraf parasimpatis
Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk. Dimana gerak refleks ini merupakan gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen dari neuron sensorik ,interneuron, dan neuron motorik, yang mengalirkan impuls saraf untuk tipe refleks tertentu. Gerak refleks yang paling sederhanahanya memerlukandua tipe sel saraf, yaitu neuron sensorik dan neuron motorik. Gerak refleks bekerja bukanlah dibawah kesadaran dan kemauan seseorang.
Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut
.
Kemudian bagaimanakah mekanisme gerak refleks dalam tubuh kita?
Gerak refleks adalah gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensor,interneuron,dan neuron motor,yang mngalirkan impuls saraf untuk tipe reflek tertentu.Gerak refleks yang paling sederhana hanya memerlukan dua tipe sel sraf yaitu neuron sensor dan neuron motor.
Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Misalnya bila kaki menginjak paku,secara otomatis kita akan menarik kaki dan akan berteriak. Refleks juga terjadi ketika kita membaui makanan enak , dengan keluarnya air liur tanpa disadari. Berikut skema gerak refleks:
Gerak refleks terjadi apabila rangsangan yang diterima oleh saraf sensori langsung disampaikan oleh neuron perantara (neuron penghubung).Hal ini berbeda sekali dengan ekanisme gerak biasa.
Gerak biasa rangsangan akan diterimaleh saraf sensorik dan kemudian disampaikan langsung ke ota. Dari otak kemudian dikeluarkan perintah ke saraf motori sehingga terjadilah gerakan. Artinya pada gerak biasa gerakan itu diketahui atu dikontrol oleh otak. Sehingga oleh sebab itu gerak biasa adalah gerak yang disaari.
2. PELAKSANAAN PRATIKUM
A. Waktu dan Tempat
Waktu : kamis, 27 Desember 2007
Tempat : Ruangan Labor dasar Biologi Umum
B. Alat dan Bahan
- mistar/penggaris dengan panjang 30 cm
(digunakan untuk mengukur kecepatan gerak reflek seseorang)
C. Cara Kerja
• Dalam ratikum ini diperlukan 2 orang praktikan.
• Kedua praktikan dalam posisi yang berhadapan.
• Praktikan pertama memegang mistar 30 cm dengan menjepitkannya di antara ibu jari dan telunjuk.
• Penggaris dipegang setinggi mata rekan kerjanya.
• Praktikan kedua memposisikan tangan di bawah,agar dapat menangkap mistar yang akan dijatuhkan.
• Penggaris dijatuhkan,dengan syarat praktikan kedua tidak boleh melihat arah jatuhnya mistar.
• Kemudian praktikan kedua menangkap mistar tersebut dengan refleks,dan apabila tidak dapat ditangkap maka percobaan diulangi lagi sehingga mistar tersebut dapat ditangkap.
• Catat angka yang tertera di mistar yang tertanggap oleh pegangan kita.
• Lakukan sebanyak 5 kali percobaan.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Percobaan I
Nama Praktikan : Tomi Anugrah Pratama
No.BP : 07 133 022
1 = 21 cm cepat 4 = 2 cm lambat
2 = 29 cm cepat 5 = 8,5 cm cepat
3 = 10 cm cepat
Rata-rata : 14,1 cepat
Percobaan II
Nama Praktikan : Febryansyah
No.BP : 06 933 030
1 =25 cm cepat 4 = 22 cm cepat
2 = 21 cm cepat 5 = 20 cm cepat
3 = 19 cm cepat
Rata-rata : 21,4 cepat
3.2 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan sebanyak 5 kali dari tiap – tiap praktikan yang berbeda. Hasil percobaan pertama yang dilkukan pada Tomi Anugrah Pratama,didapat harga rata-rata gerak refleknya yang cepat ( 14,1 ),Sedangkan untuk praktikan yang kedua nilainya lebih besar lagi ( 21,4 ).Ini menandakan gerak reflek pada kelompok 3 dapat dikategorikan gerak refleknya cepat.
Cepatnya gerak reflek seseorang apabila memiliki nilai diatas 0,5 dari panjang penggaris (30 cm). jadi jika praktikkan memiliki nilai rata-rata gerak refleknya dibawah dari 15 maka ia dikatakan memiliki gerak reflek yang lambat, dan sebaliknya jika hasil rata-rata perhitungan gerak reflek yang di dapat diatas 15 maka dapat dikatakan ia memiliki gerak reflek yang cepat.
Praktikan sendiri menganalisa bahwa terdapat perbedaan kecepatan gerak reflek seseorang. Hal ini sangat terkait denga syaraf-syarafnya dan pembiasaan diri terhdap lingkungan luar.Ada praktikan yang dari awal cepat,namun di akhir angka yang didapat semakin menurun. Dan ada juga sebalikny. Bahkahn ada yang dari awal sampai akhir lambat
4. KESIMPULAN
Data yang diperoleh pada kelompom 3 sangat berbeda dan bervariasi. Nilai yang didapatkan berbeda-beda, dan dapat dikatakan bahwa gerak reflek disebabkan karena pengaruh ransangan yang datang dari luar tubuh dimana jalannya tidak sampai ke otak. Pada umunya gerak refleks berlangsung terhadap stimulus dari luar dan berlangsung dengan cepat atau tiba-tiba. Gerakan terjadi juga diluar kesadaran kita (tidak didasarkan kemauan).
Seperti yang telah dijelaskan pada bab teori diatas,jalan dari gerak reflak ini adalah mulai dari stimulus diterima reseptor, kmudian impus tersebut dibawa oleh saraf sensorik menuju sum-sum tulang belakang, kemudian impul dilanjutkan oleh saraf motorik, kemudian diterima oleh efektor maka terjadilah respon/tanggapan.
Pada percobaan yang dilakukan, yang menjadi stimulus adalah mistar yang dijatuhkan ke tangan praktikan. Mistar akan tertangkap dengan cepat,dalam artian dapat tertangkap bagian terbesar darimistar tersebut. Maka praktikan memiliki suatu refleks yang cepat terhadap mistar yang dijatuhkan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Amien,M.1987.Makhluk Hidup.Jakarta:PN Balai Pustka.
Hadisumarto,Suhargono.1997.Biologi-2b.Jakarta:Bumi Aksara.
Keeton,William T.1980.Biology Science.Library of Congress in Publication Krass.
Kimbal,John W.1983.Biology 3rd ed.Addison Wesley.
Syamsuri,Istamar.2004.Biologi SMA kelas XI.Jakarta : Erlangga.
Wilarso,joko.2001.BIOLOGI PENDIDIKAN DASAR.Jakarta:Erlangga.
Rabu, 02 September 2009
FORMAT PENGKAJIAN KMB
FORMAT PENGKAJIAN KMB
PENGKAJIAN
I. BIODATA
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku/bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Ruangan Di Rawat
No. Reg
Status Perkawinan
Tanggal masuk RS
Tanggal Pengkajian
Diagnosa Medis
Alamat
Identitas Penanggung jawab :
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pendidikan
Pekerjaan
Suku/bangsa
Agama
Alamat
Hubungan dengan Klien
II. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan Utama
Keluhan Saat MRS
Keluahan saat Pengkajian
B. Riwayat Penyakit Sekarang
C. Riwayat Penyakit Dahulu
D. Riwayat Penyakit Keluarga
III. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum :…..
Kesadaran :
Vital sign :
GCS :
2. Kepala :
Kebersihan
Bentuk Kepala
Keadaan rambut
Keadaan kulit kepala
Nyeri kepala/pusing
3. Mata :
Kebersihan
Ketajaman penglihatan/visus
Peradangan
Scelera
Pupil
Gerak bola mata
Konjungtiva
Lapang pandang
Reflek kornea
Rasa nyeri
Pemakaian alat Bantu : Kaca mata, lensa kontak ?
4. Hidung :
Kebersihan
Struktur
Polip
Sinus
Perdarahan
Peradangan
Fungsi penciuman
5. Telinga :
Kebersihan
Struktur
Nyeri
Cairan
Tanda peradangan
Fungsi pendengaran
6. Mulut :
Kebersihan
Keadaan gigi
Problem menelan
Bicara
Rongga mulut
Fungsi mengunyah
Fungsi pengecap
7. Leher :
Vena jugularis
Arteri karotis
Pembesaran tiroid
Pembesaran limfe
8. Dada :
Bentuk dada
Pergerakan/pengembangan torak
Batuk
Sputum
Vokal premitus
Resonansi
Bunyi napas
Bunyi napas tambahan
9. Jantung :
Ukuran jantung
Dengut jantung
Nyeri dada
Palpitasi
Bunyi jantung
10. Abdomen :
Warna kulit
Bunyi peristaltic
Keadaan permukaan abdomen
Pembesaran abdomen
Nyeri tekan
11. Genitalia :
Kebersihan
Keadaan kelamin luar
Keadaan kandung kemih
Pembesaran kelenjar
12. Ekstrimitas atas dan bawah :
Struktur
Kekuatan otot
Tonus otot
Kekakuan sendi
Trauma
Nyeri
Pola aktivitas
Protesa
13. Kulit :
Kebersihan
Struktur
Turgor
Warna
Kelembaban
Lesi
IV. KEBUTUHAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL
1. Nutrisi
Frekuensi, waktu makan, nafsu makan, jenis makanan dirumah, makanan yang tidak disukai/alergi/pantangan, kebiasaan sebelum makan
Dirumah :
Di RS :
2. Eliminasi (BAB/BAK)
Frekuensi, warna, konsistensi, keluhan berhubungan dengan BAK/BAB, penggunaan laxantif/obat lain
Dirumah :
Di RS :
3. Personal hygine
Mandi, oral hygine, cuci rambut
Dirumah :
Di RS :
4. Istirahat/tidur
Lama, tidur siang, kebiasaan sebelum tidur, keluhan/masalah
Dirumah :
Di RS :
5. Aktivitas
Kegiatan waktu luang, kemampuan dalam beraktivitas seperti, makan, mandi, berpakaian, keluhan dalam beraktivitas
Dirumah :
Di RS :
6. Psikososial
a. Masalah yang mempengaruhi pasien…….
b. Persepsi pasien terhadap penyakitnya
Hal yang sangat difikirkan saat ini……..
Harapan setelah menjalani perawatan………
Perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit…….
c. Mekanisme koping terhadap stres………
d. Dampak penyakit pasien terhadap keluarga………
e. Pola interaksi dengan orang terdekat…….
f. Bagaimana hubungan klien dengan tenaga kesehatan/keperawatan selama dirawat
V. KEBUTUHAN SPIRITUAL
Agama yang dianut :
Kegiatan spiritual yang dilakukan :
Dampak penyakit terhadap kegiatan spiritual :
VI. DATA PENUNJANG
1. Radiologi
2. Laboratorium
3. Pemeriksaan lainnya
ANALISA DATA
HARI/TGL DATA ETIOLOGI MASALAH
DS :
DO :
PRIORITAS MASALAH
1.
2.
3.
4.
dst
RENCANA KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RENCANA RASIONAL
Kriteria
SMART
CATATAN KEPERAWATAN (hari pertama)
NO HARI/TGL DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI
S :
O :
A :
P :
CATATAN PERKEMBANGAN (hari ke 2 dst.)
NO HARI/TGL DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI
S :
O :
A :
P :
PENGKAJIAN
I. BIODATA
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku/bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Ruangan Di Rawat
No. Reg
Status Perkawinan
Tanggal masuk RS
Tanggal Pengkajian
Diagnosa Medis
Alamat
Identitas Penanggung jawab :
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pendidikan
Pekerjaan
Suku/bangsa
Agama
Alamat
Hubungan dengan Klien
II. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan Utama
Keluhan Saat MRS
Keluahan saat Pengkajian
B. Riwayat Penyakit Sekarang
C. Riwayat Penyakit Dahulu
D. Riwayat Penyakit Keluarga
III. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum :…..
Kesadaran :
Vital sign :
GCS :
2. Kepala :
Kebersihan
Bentuk Kepala
Keadaan rambut
Keadaan kulit kepala
Nyeri kepala/pusing
3. Mata :
Kebersihan
Ketajaman penglihatan/visus
Peradangan
Scelera
Pupil
Gerak bola mata
Konjungtiva
Lapang pandang
Reflek kornea
Rasa nyeri
Pemakaian alat Bantu : Kaca mata, lensa kontak ?
4. Hidung :
Kebersihan
Struktur
Polip
Sinus
Perdarahan
Peradangan
Fungsi penciuman
5. Telinga :
Kebersihan
Struktur
Nyeri
Cairan
Tanda peradangan
Fungsi pendengaran
6. Mulut :
Kebersihan
Keadaan gigi
Problem menelan
Bicara
Rongga mulut
Fungsi mengunyah
Fungsi pengecap
7. Leher :
Vena jugularis
Arteri karotis
Pembesaran tiroid
Pembesaran limfe
8. Dada :
Bentuk dada
Pergerakan/pengembangan torak
Batuk
Sputum
Vokal premitus
Resonansi
Bunyi napas
Bunyi napas tambahan
9. Jantung :
Ukuran jantung
Dengut jantung
Nyeri dada
Palpitasi
Bunyi jantung
10. Abdomen :
Warna kulit
Bunyi peristaltic
Keadaan permukaan abdomen
Pembesaran abdomen
Nyeri tekan
11. Genitalia :
Kebersihan
Keadaan kelamin luar
Keadaan kandung kemih
Pembesaran kelenjar
12. Ekstrimitas atas dan bawah :
Struktur
Kekuatan otot
Tonus otot
Kekakuan sendi
Trauma
Nyeri
Pola aktivitas
Protesa
13. Kulit :
Kebersihan
Struktur
Turgor
Warna
Kelembaban
Lesi
IV. KEBUTUHAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL
1. Nutrisi
Frekuensi, waktu makan, nafsu makan, jenis makanan dirumah, makanan yang tidak disukai/alergi/pantangan, kebiasaan sebelum makan
Dirumah :
Di RS :
2. Eliminasi (BAB/BAK)
Frekuensi, warna, konsistensi, keluhan berhubungan dengan BAK/BAB, penggunaan laxantif/obat lain
Dirumah :
Di RS :
3. Personal hygine
Mandi, oral hygine, cuci rambut
Dirumah :
Di RS :
4. Istirahat/tidur
Lama, tidur siang, kebiasaan sebelum tidur, keluhan/masalah
Dirumah :
Di RS :
5. Aktivitas
Kegiatan waktu luang, kemampuan dalam beraktivitas seperti, makan, mandi, berpakaian, keluhan dalam beraktivitas
Dirumah :
Di RS :
6. Psikososial
a. Masalah yang mempengaruhi pasien…….
b. Persepsi pasien terhadap penyakitnya
Hal yang sangat difikirkan saat ini……..
Harapan setelah menjalani perawatan………
Perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit…….
c. Mekanisme koping terhadap stres………
d. Dampak penyakit pasien terhadap keluarga………
e. Pola interaksi dengan orang terdekat…….
f. Bagaimana hubungan klien dengan tenaga kesehatan/keperawatan selama dirawat
V. KEBUTUHAN SPIRITUAL
Agama yang dianut :
Kegiatan spiritual yang dilakukan :
Dampak penyakit terhadap kegiatan spiritual :
VI. DATA PENUNJANG
1. Radiologi
2. Laboratorium
3. Pemeriksaan lainnya
ANALISA DATA
HARI/TGL DATA ETIOLOGI MASALAH
DS :
DO :
PRIORITAS MASALAH
1.
2.
3.
4.
dst
RENCANA KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RENCANA RASIONAL
Kriteria
SMART
CATATAN KEPERAWATAN (hari pertama)
NO HARI/TGL DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI
S :
O :
A :
P :
CATATAN PERKEMBANGAN (hari ke 2 dst.)
NO HARI/TGL DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI
S :
O :
A :
P :
Langganan:
Postingan (Atom)