Rabu, 13 April 2016
Kamis, 07 Januari 2016
PERAWATAN PASIEN DENGAN PENYAKIT TIFUS ABDOMINAL
PENGERTIAN
Tifus abdominalis adalah (demam tifoid) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.
PENYEBAB
Bakteri Salmonella Tyhposa, Basil gram negative, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai 3 macam antigen O (somatic/tubuh kuman), antigen H(flagella) dan antigen Vi (simpai kuman)
PENULARAN
Melalui mulut oleh makanan atau air yang trcemar kuman Bakteri Salmonella Tyhposa.
EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia masih endemic Tifus abdominalis, sering terjadi pada anak usia diatas 1 tahun
Tahun 1985 insiden tifus abdominalis pada anak 0-4 th (25,32%), 5-9 th (35,59%), 10-14 th (39,09%)
Di RSUD Ulin ruang perawatan anak urutan 3 dari 10 besar penyakit.
Semua basil salmonella bersifat serupa :
1.Tuan rumah (host) : untuk jenis salmonella typhosa dan salmonella paratypy A, B dan C adalah manusia
2.dapat tahan hidup untuk waktu yang lama dan berkembang biak dalam makanan seperti daging, telur, sayuran, susu dan air terutama jika udara panas.
3.kontaminasi dari pembuat dan pedangang makanan, lalat atau ekskreta binatang mengerat
PATOGENISIS (PERJALANAN PENYAKIT)
TANDA DAN GEJALA
- Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan pasien dewasa
- Masa tunas (inkubasi) rata-rata 10-20 hari
- Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat
- Kemudian menyusul gejala klinis yang sering ditemukan :
- Demam −Demam dapat berlangsung selama 3 minggu −Bersifat febris remiten −Minggu I, suhu berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya turun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari −Minggu II, pasien terus dalam keadaan demam −Minggu III, suhu berangsur-angsur turun dan normal kembali padaakhir minggu III
- Gangguan pada saluran pencernaan −Mulut : napas berbau −Bibir kering dan pecah-pecah −Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan −Abdomen : dapat ditemukan perut kembung (meteorismus) −Hati dan limpa membesar disertai nyeri tekan −Dapat terjadi diare/konstipasi 3.Gangguan kesadaran −Apatis sampai somnolen
- Pemeriksaan darah tepi −Terdapat leukopeni pada permulaan sakit −Anemia −Trombositopeni
- Darah untuk kultur (Biakan empedu) −Merupakan pemeriksaan yang dapat menentukan diagnosis pasti dari tifus abdominalis. −Basil salmonella tyhposa dapat ditemukan dalam darah pasien biasanya minggu pertama sakit
- Pemeriksaan Widal test −Widal test adalah suatu reaksi antara antigen dan antibody (aglutinin). −Bila terjadi serum dicampur dengan suspensi antigen salmonella typosa, dinyatakan positif bila terjadi reaksi aglutinasi dengan jalan mengencerkan serum, maka kadar zat anti dapat ditentukan. −Jika nilai titer 1/200 atau lebih untuk aglutinin O dan titer 1/800 untuk aglutinin H −Atau kenaikan titer 4 kali pada pemeriksaan ke 2 dengan selang waktu 5-10 hari.
Mengapa diagnosis tifus abdominalis lebih banyak titer O dan tidak titer H ?
−Dapat menunjukkan positif semu
−Titer H dapat tetap tinggi setelah mendapat imunisasi atau pasien yang telah lama sembuh
−Titer O dan H tinggi karena terdapat agglutinin normal karena infeksi basil E. Coli pada usus
−Pada neonatus zat anti tersebut diperoleh dari ibu melalui tali pusat
−Jika terdapat infeksi silang dengan Rickettsia (mikroorganisme kokobasil yang lebih kecil dari bakteri, biasanya dalam badan tungau menyebabkan demam)
−Akibat imunisasi secara alamiah.
4.Pemeriksaan urin dan feces
−Pemeriksaan positif pada minggu II &III pada feces dapat mengandung kuman salmonella, sedangkan urine pada minggu III.
−Pemeriksaan negative biasanya untuk memastikan pasien sudah benar-benar sembuh dan tidak menjadi pembawa kuman (carier)
KOMPLIKASI
- Pada usus halus :
- Perdarahan usus
- Perforasi usus
- Ileus paralitik
- Peritonitis
- Komplikasi di luar usus
- Kardiovaskuler : syok sepsis, miokarditis, trobosis dan tromboplebitis
- Darah : anemia hemolitik, trobositopeni
- Paru : pneumonia, empema dan pleuritis
- Hepar dan kandung empedu : hepatitis dan kolesistitis
- Ginjal : glumeluronefritis, pielonefritis dan perinefritis
- Tulang : osteomielitis, periostitis, arthritis
- Neurology : Meningitis, encefalopaty
Medik
Pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus dianggap dan diperlakukan
langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan diberikan pengobatan sebagai berikut :
- Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan eskreta
- Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi
- Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan di ruangan
- Diet.
- Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein.
- Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan menimbulkan gas
- Susu 2 gelas sehari. Bila kesadaran pasien menurun diberikan makanan cair melaui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan baik dapat juga diberikan manakan lunak
6. Bila terjadi komplikasi terapi disesuaikan dengan penyakitnya.
Keperawatan
- Tifus abdominalis merupakan penyakit menular sehingga pasien harus dirawat di kamar isolasi yang dilengkapi dengan peralatan untuk merawat pasien yang menderita penyakit menular seperti : desinfektan untuk mencuci tangan, merendam pakaian kotor dan pot/urinal bekas pakai pasien. Yang merawat pasien agar memakai celemek.
- Masalah pasien yang tifus abdominalis yang perlu diperhatikan adalah : −Kebutuhan nutrisi/cairan dan elektrolit −Peningkatan suhu tubuh −Gangguan rasa aman dan nyaman −Resiko terjadinya komplikasi −Kurangnya pengetahuan orang tua
1.Kebutuhan nutrisi/cairan dan elektrolit
Ganguan kesadaran, anoreksia dan demam
kurang masukan makanan/cairan
kurangnya kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan
memudahkan timbulnya komplikasi.
Adanya tukak pada usus halus
Jenis makanan disesuaikan
Makanan yang diberikan : cukup mengandung cairan, rendah serat, tinggi protein dan kalori serta tidak menimbulkan gas.
Pemberian melihat keadaan pasien :
- Jika kesaran pasien baik, diberikan makanan lukan dengan lauk pauk dicincang (hati/daging). Sayuran labu siam/wortel dimasak lunak sekali. Boleh juga diberi tahu, telur ½ matang direbus. Susu diberikan 2x 1 gelas/lebih. Jika makanan tidak dihabiskan diberikan ekstra susu.
- Pasien yang kesadaran menurun sekali. Diberikan makanan cair per sonde, kalori sesuai dengan kebutuhan. Pemberian diatur setiap 3 jam termasuk makanan ekstra seperti sari buah, bubur kacang hijau yang dihaluskan. Jika kesaran membaik makanan beralih secara bertahap (dari cair ke lunak)
- Jika pasien payah Dipasang infuse dengan cairan glukosa dan NaCl. Jika keadaan sudah tenang berikan makanan per sonde disamping infuse masih diteruskan. Makanan per sonde biasanya ½ dari jumlah kalori, ½ nya masih per infus.
2. Peningkatan suhu tubuh
−Suhu meningkat terjadi penguapan berakibat cairan tubuh berkurang => gelisah, selaput lendir mulut dan bibir kering dan pecah-pecah => Berikan intake cairan (boleh minum sirop, the manis atau apa saja yang disukai”)
- Ruangan diatur agar cukup ventilasi
- Berikan kompres
- Jangan diberikan selimut tebal
- Jika menggunakan kipas angina usahakan agar kipas angina tidak langsung mengenai tubuh pasien.
- Selaput lendir mulut dan bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor
- Berikan perawatan mukosa mulut dan bibir 2 kali sehari.
- Perawatan personal hygine
- Pasien yang apatis
- Ajak untuk berkomunikasi
- Rasa kesemutan saat mulai berjalan akibat lama berbaring
- Sebelum mulai berjalan harus mulai dengan menggoyang-goyangkan kaki sambil duduk di pinggir tempat tidur, kemudian berjalan disekitar tempat tidur sambil berpegangan. Hilang setelah 2-3 hari mobilisasi.
4.Resiko terjadi komplikasi
Yang perlu diperhatikan untuk mencegah komplikasi adalah :
a. Obat ; Yang pokok adalah kloramfenicol, dosis 100 mg/KgBB/hari diberikan 4 x sehari
b. Istirahat
−Istirahat total selama demam, kemudian diteruskan 2 minggu lagi setelah suhu normal
−Setelah 1 minggu suhu normal 3 hari kemudia pasien dilatih duduk; jika tidak timbul demam lagi boleh duduk dipinggir tempat tidur sambil kaki digoyangkan.
−Pada akhir mingu ke 2 jika tidak ada demam boleh belajar jalan mengelilingi tempat tidur.
c. Pengawasan komplikasi
Perdarahan Usus
Tanda :
- Dapat terjadi saat demam masih tinggi
- Suhu mendadak turun
- Nadi meningkat cepat dan kecil
- Tekanan daran menurun
- Pasien tampak pucat
- Kulit teraba lembab
- Kesadaran makin menurun
- Jika perdarahan berat terlihat Melena (feces berwarna hitam)
Tindakan:
- Hentikan makan dan minum
- Segera pasang infus (jika belum terpasang)
- Berikan kompres dingin sekitar perut
- Hubungi dokter Perforasi usus : Dapat terjadi pada minggu III Tanda :
- Pasien mengeluh sakit perut hebat dan nyeri tekan
- Pucat, kerinngat dingin, nadi kecil.
Tindakan :
−Hubungi dokter siapkan foto roentgen
−Pasang infus, hentikan makan dan minum
Komplikasi lain seperti ; Pneumonia hipostatik akibat bedrest
Tanda :
−Suhu mendadak tinggi
−Sesak napas
Tindakan pencegahan : perubahan sikap berbaring tiap 2-3 jam
5. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit
Jelaskan tentang cara perawatan pasien dirumah :
- Penyebab dan cara penularan penyakit typhus abdominal
- Pentingnya menjaga kesehatan
- Anak yang sudah sekolah supaya dinasehatkan jangan membeli makanan yang tidak ada tutup/yang tidak bersih
- Pasien tidak boleh tidur dengan pasien lain
- Pasien harus istirahat mutlak/bedrest total sampai demam turun masih dilanjutkan selama 2 minggu. Aktivitas seperti BAK/BAB harus ditolong di atas tempat tidur.
- Pemberian obat
- Pembuangan feces dan urin harus dibuang ke dalam lobang WC dan disiram sebanyak-banyaknya
- Cegah adanya vector pathogen
PROGNOSIS
- Umumnya pada anak baik asal cepat berobat.
- Angka motalitas pada pasien yang dirawat ialah 60%.
- Prognosis buruk/kurang baik bila terdapat gejala klinis :
- Panas tinggi (hiperpireksia) atau febris continue
- Kesadaran menurun sekali yaitu stupor, koma atau delirium
- Komplikasi berat : dehidrasi, asidosis, perforasi, peritonitis, bronchopneumonia
- Gizi buruk
Relap (kambuh)
Karena terdapat basil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat atau zat anti
Jumat, 10 Juni 2011
MACAM-MACAM PENYAKIT KELAMIN
GONORRHEA & CHLAMYDIA
* Disebabkan oleh bakteri. Infeksi dimulai beberapa hari sampai beberapa minggu setelah hubungan intim dengan orang yang terjangkit penyakit ini
* Pada pria, penyakit ini menyebabkan keluarnya cairan dari kemaluan pria. Buang air kecil dapat terasa sakit. Gejala-gejala ini dapat terasa berat atau tidak terasa sama sekali.
* Gejala-gejala gonorrhea pada wanita biasanya sangat ringan atau tidak terasa sama sekali, tetapi kalau tidak diobati penyakit ini dapat menjadi parah dan menyebabkan kemandulan
* Penyakit ini dapat disembuhkan dengan antibiotik bila ditangani secara dini.
HERPES
* Disebabkan oleh virus, dapat diobati tetapi tidak dapat disembuhkan
* Gejala timbul antara 3 sampai 10 hari setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit ini
* Gejala awal muncul seperti lecet yang kemudian terbuka menjadi lubang kecil dan berair.
* Dalam 5 sampai 10 hari gejala hilang
* Virus menetap dalam tubuh dan dapat timbul lagi sesuatu saat, dan kadang-kadang sering
* Wanita kerap kali tidak sadar bahwa ia menderita herpes akrena lecet terjadi di dalam vagina.
INFEKSI JAMUR
* Disebabkan oleh jamur
* Menyebabkan kegatalan berwarna merah di bawah kulit pria yang tidak disunat
* Pada wanita akan ke luar cairan putih kental yang menyebabkan rasa gatal
* Dapat disembuhkan dengan krim anti jamur
SIPILIS
* Disebabkan oleh bakteria. Lesi muncul antara 3 minggu sampai 3 bulan setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit ini
* Luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi. Pada umumnya tidak terasa sakit
* Luka akan hilang setelah beberapa minggu, tetapi virus akan menetap pada tubuh dan penyakit dapat muncul berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh Lecet-lecet ini akan hilang juga, dan virus akan menyerang bagiantubuh lain
* Syphilis dapat disembuhkan pada tiap tahapan dengan penicillin
* Pada wanita lesi dapat tersembunyi pada vagina
VAGINITIS
* Infeksi pada vagina yang biasanya menyebabkan keluarnya cairan dari vagina yang berbau dan menimbulkan ketidak nyamanan
* Disebabkan oleh berbagai jenis bakteri (bakteri gonorrhea, chlamydia) atau jamur
* Juga dapat disebabkan oleh berbagai bakteri tidak berbahaya yang memang menetap pada vagina
BISUL atau kutil PADA ALAT KELAMIN
* Disebabkan oleh virus (Virus Human Papilloma atau HPV)
* Muncul berupa satu atau banyak bisul atau benjolan antara sebulan sampai setahun setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit tersebut
* Pada umumnya tidak dapat terlihat pada wanita karena terletak di dalam vagina, atau pada pria karena terlalu kecil. Dapat diuji dengan lapisan cuka
* Dapat berakibat serius pada wanita karena dapat menyebabkan kanker cervix
* Bisul pada kelamin ini dapat disembuhkan, wanita harus menjalankan pap smear setiap kali berganti pasangan intim.
KUTU KELAMIN
* Sangat kecil (lebih kecil atau sama dengan 1/8 inch), berwana kelabu kecoklatan, menetap pada rambut kemaluan.
* Dapat disembuhkan dengan obat cair yang digosokkan pada rambut kelamin.
* Dapat diselidiki dengan meneliti cairan vagina tersebut dengan mikroskop
* Pada umumnya dapat disembuhkan dengan obat yang tepat sesuai dengan penyebabnya.
KUTU DI BAWAH KULIT
* Mirip dengan kutu kelamin, tetapi ukurannya lebih kecil dan menetap di bawah kulit
* Menyebabkan luka-luka kecil dan gatal di seluruh tubuh
* Diobati dengan obat cair yang diusapkan ke seluruh tubuh
* Pakaian, seprei dan handuk harus dicuci setelah pengobatan, karena kutu dapat menetap pada kain-kain terebut
AIDS
* Penyakit akibat hubungan intim yang paling serius, menyebabkan tidak bekerjanya sistim kekebalan tubuh
* Tidak ada gejala yang nyata tanpa penelitian darah
* Dapat menyebabkan kematian setelah sepuluh tahun setelah terinfeksi virus HIV, tetapi pengobatan telah ditemukan
* Disebarkan melalui hubungan intim [berciuman, making love], hubungan dengan lendir penderita dan pemakaian jarum suntik secara bersamaan.
Jika anda diduga memiliki masalah yang berhubungan dengan penyakit kewanitaan apakah itu periode mentsruasi yang tidak teratur, masalah hormonal atau penyakit yang disebakan hubungan seksual (STD), sebaiknya selalu periksakan ke dokter.
Ini penting untuk mengetahui gejala yang ditimbulkan dan juga untuk mendapatkan informasi mengenai masalah kesehatan seksual yang banyak wanita hadapi, bagaimana mencegahnya dan bagaimana melindungi diri.
Karena masih ada stigma mengenai kesehatan seksual, banyak wanita menghindari pergi ke dokter padahal penghindaran ini dapat mempengaruhi kesehatan serius termasuk kesuburan.
Berikut beberapa penyakit umum yang wanita hadapi dan cara menjamin kesehatan kewanitaan tetap sehat:
Human papillomavirus (HPV)
Human papillomavirus (HPV) adalah salah satu infeksi virus yang disebabkan oleh hubungan seksual paling umum. Sebagian besar penyakit ini tidak begitu berbahaya tetapi jika test smear nampak tidak normal, dokter akan menyarankan untuk test lab.
Cara untuk mengatetahui HPV adalah dengan cervical smear atau screening kesehatan seksual. Yakinlah untuk memeriksa secara teratur setidaknya satu kali setiap tiga tahun. Berhenti merokok karena penelitian menemukan hubungan antara merokok dan kanker vulva dan gunakan kondom.
Pelvic Inflammatory Disease (PID)
Pelvic Inflammatory Disease (PID) mempangaruhi satu dari 10 wanita dan jika dibiarkan akan menyebabkan ketidaksuburan. Gejala yang mungkin timbul pinggul sakit saat hubungan seks, pendarahy ang tidak teratur atau perubahan bau pada vagina. Segera periksa ke dokter jika anda menemukan gejala itu. Penyakit ini dapat dengan mudah disembuhkan dengan antibiotik.
Upaya pencegahan PID adalah lakukan seks yang aman dan memeriksakan secara teratur. Kadang-kadang gejala tidak begitu jelas sampai semua terlambat.
Bacterial vaginosis
Bacterial vaginosis adalah salah satu infeksi vagina yang paling umum diantara wanita diusia beranak. Penyakit ini sering dianggap hanya infeksi karena memiliki gejala yang sangat umum dengan infeksi biasa.
Gejala dari ketidakseimbangan bakteri dalam vagina termasuk gatal, aroma amis dan perubahan dalam vagina. Jangan biarkan gejala-gejala tersebut dan yakinlah untuk diperiksa dan disembuhkan dengan baik. Jika dibiarkan, ini akan meningkat resiko berkembang menjadi PID
Kepada semua yang membaca tulisan ini semoga bermanfaat..
* Disebabkan oleh bakteri. Infeksi dimulai beberapa hari sampai beberapa minggu setelah hubungan intim dengan orang yang terjangkit penyakit ini
* Pada pria, penyakit ini menyebabkan keluarnya cairan dari kemaluan pria. Buang air kecil dapat terasa sakit. Gejala-gejala ini dapat terasa berat atau tidak terasa sama sekali.
* Gejala-gejala gonorrhea pada wanita biasanya sangat ringan atau tidak terasa sama sekali, tetapi kalau tidak diobati penyakit ini dapat menjadi parah dan menyebabkan kemandulan
* Penyakit ini dapat disembuhkan dengan antibiotik bila ditangani secara dini.
HERPES
* Disebabkan oleh virus, dapat diobati tetapi tidak dapat disembuhkan
* Gejala timbul antara 3 sampai 10 hari setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit ini
* Gejala awal muncul seperti lecet yang kemudian terbuka menjadi lubang kecil dan berair.
* Dalam 5 sampai 10 hari gejala hilang
* Virus menetap dalam tubuh dan dapat timbul lagi sesuatu saat, dan kadang-kadang sering
* Wanita kerap kali tidak sadar bahwa ia menderita herpes akrena lecet terjadi di dalam vagina.
INFEKSI JAMUR
* Disebabkan oleh jamur
* Menyebabkan kegatalan berwarna merah di bawah kulit pria yang tidak disunat
* Pada wanita akan ke luar cairan putih kental yang menyebabkan rasa gatal
* Dapat disembuhkan dengan krim anti jamur
SIPILIS
* Disebabkan oleh bakteria. Lesi muncul antara 3 minggu sampai 3 bulan setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit ini
* Luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi. Pada umumnya tidak terasa sakit
* Luka akan hilang setelah beberapa minggu, tetapi virus akan menetap pada tubuh dan penyakit dapat muncul berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh Lecet-lecet ini akan hilang juga, dan virus akan menyerang bagiantubuh lain
* Syphilis dapat disembuhkan pada tiap tahapan dengan penicillin
* Pada wanita lesi dapat tersembunyi pada vagina
VAGINITIS
* Infeksi pada vagina yang biasanya menyebabkan keluarnya cairan dari vagina yang berbau dan menimbulkan ketidak nyamanan
* Disebabkan oleh berbagai jenis bakteri (bakteri gonorrhea, chlamydia) atau jamur
* Juga dapat disebabkan oleh berbagai bakteri tidak berbahaya yang memang menetap pada vagina
BISUL atau kutil PADA ALAT KELAMIN
* Disebabkan oleh virus (Virus Human Papilloma atau HPV)
* Muncul berupa satu atau banyak bisul atau benjolan antara sebulan sampai setahun setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit tersebut
* Pada umumnya tidak dapat terlihat pada wanita karena terletak di dalam vagina, atau pada pria karena terlalu kecil. Dapat diuji dengan lapisan cuka
* Dapat berakibat serius pada wanita karena dapat menyebabkan kanker cervix
* Bisul pada kelamin ini dapat disembuhkan, wanita harus menjalankan pap smear setiap kali berganti pasangan intim.
KUTU KELAMIN
* Sangat kecil (lebih kecil atau sama dengan 1/8 inch), berwana kelabu kecoklatan, menetap pada rambut kemaluan.
* Dapat disembuhkan dengan obat cair yang digosokkan pada rambut kelamin.
* Dapat diselidiki dengan meneliti cairan vagina tersebut dengan mikroskop
* Pada umumnya dapat disembuhkan dengan obat yang tepat sesuai dengan penyebabnya.
KUTU DI BAWAH KULIT
* Mirip dengan kutu kelamin, tetapi ukurannya lebih kecil dan menetap di bawah kulit
* Menyebabkan luka-luka kecil dan gatal di seluruh tubuh
* Diobati dengan obat cair yang diusapkan ke seluruh tubuh
* Pakaian, seprei dan handuk harus dicuci setelah pengobatan, karena kutu dapat menetap pada kain-kain terebut
AIDS
* Penyakit akibat hubungan intim yang paling serius, menyebabkan tidak bekerjanya sistim kekebalan tubuh
* Tidak ada gejala yang nyata tanpa penelitian darah
* Dapat menyebabkan kematian setelah sepuluh tahun setelah terinfeksi virus HIV, tetapi pengobatan telah ditemukan
* Disebarkan melalui hubungan intim [berciuman, making love], hubungan dengan lendir penderita dan pemakaian jarum suntik secara bersamaan.
Jika anda diduga memiliki masalah yang berhubungan dengan penyakit kewanitaan apakah itu periode mentsruasi yang tidak teratur, masalah hormonal atau penyakit yang disebakan hubungan seksual (STD), sebaiknya selalu periksakan ke dokter.
Ini penting untuk mengetahui gejala yang ditimbulkan dan juga untuk mendapatkan informasi mengenai masalah kesehatan seksual yang banyak wanita hadapi, bagaimana mencegahnya dan bagaimana melindungi diri.
Karena masih ada stigma mengenai kesehatan seksual, banyak wanita menghindari pergi ke dokter padahal penghindaran ini dapat mempengaruhi kesehatan serius termasuk kesuburan.
Berikut beberapa penyakit umum yang wanita hadapi dan cara menjamin kesehatan kewanitaan tetap sehat:
Human papillomavirus (HPV)
Human papillomavirus (HPV) adalah salah satu infeksi virus yang disebabkan oleh hubungan seksual paling umum. Sebagian besar penyakit ini tidak begitu berbahaya tetapi jika test smear nampak tidak normal, dokter akan menyarankan untuk test lab.
Cara untuk mengatetahui HPV adalah dengan cervical smear atau screening kesehatan seksual. Yakinlah untuk memeriksa secara teratur setidaknya satu kali setiap tiga tahun. Berhenti merokok karena penelitian menemukan hubungan antara merokok dan kanker vulva dan gunakan kondom.
Pelvic Inflammatory Disease (PID)
Pelvic Inflammatory Disease (PID) mempangaruhi satu dari 10 wanita dan jika dibiarkan akan menyebabkan ketidaksuburan. Gejala yang mungkin timbul pinggul sakit saat hubungan seks, pendarahy ang tidak teratur atau perubahan bau pada vagina. Segera periksa ke dokter jika anda menemukan gejala itu. Penyakit ini dapat dengan mudah disembuhkan dengan antibiotik.
Upaya pencegahan PID adalah lakukan seks yang aman dan memeriksakan secara teratur. Kadang-kadang gejala tidak begitu jelas sampai semua terlambat.
Bacterial vaginosis
Bacterial vaginosis adalah salah satu infeksi vagina yang paling umum diantara wanita diusia beranak. Penyakit ini sering dianggap hanya infeksi karena memiliki gejala yang sangat umum dengan infeksi biasa.
Gejala dari ketidakseimbangan bakteri dalam vagina termasuk gatal, aroma amis dan perubahan dalam vagina. Jangan biarkan gejala-gejala tersebut dan yakinlah untuk diperiksa dan disembuhkan dengan baik. Jika dibiarkan, ini akan meningkat resiko berkembang menjadi PID
Kepada semua yang membaca tulisan ini semoga bermanfaat..
Rabu, 11 Agustus 2010
Perawatan Kolostomi
PERAWATAN KOLOSTOMI
Pengertian
•Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses (M. Bouwhuizen, 1991
•Pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses (Randy, 1987)
•Lubang yang dibuat melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan feses (Evelyn, 1991, Pearce, 1993)
Jenis – jenis kolostomi
Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun sementara.
•Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang)
•Kolostomi temporer/ sementara
Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomi double barrel.
Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga stoma tampak membesar.
Pasien dengan pemasangan kolostomi biasanya disertai dengan tindakan laparotomi (pembukaan dinding abdomen). Luka laparotomi sangat beresiko mengalami infeksi karena letaknya bersebelahan dengan lubang stoma yang kemungkinan banyak mengeluarkan feses yang dapat mengkontaminasi luka laparotomi, perawat harus selalu memonitor kondisi luka dan segera merawat luka dan mengganti balutan jika balutan terkontaminasi feses.
Perawat harus segera mengganti kantong kolostomi jika kantong kolostomi telah terisi feses atau jika kontong kolostomi bocor dan feses cair mengotori abdomen. Perawat juga harus mempertahankan kulit pasien disekitar stoma tetap kering, hal ini penting untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit dan untuk kenyamanan pasien.
Kulit sekitar stoma yang mengalami iritasi harus segera diberi zink salep atau konsultasi pada dokter ahli jika pasien alergi terhadap perekat kantong kolostomi. Pada pasien yang alergi tersebut mungkin perlu dipikirkan untuk memodifikasi kantong kolostomi agar kulit pasien tidak teriritasi.
Pendidikan pada pasien
Pasien dengan pemasangan kolostomi perlu berbagai penjelasan baik sebelum maupun setelah operasi, terutama tentang perawatan kolostomi bagi pasien yang harus menggunakan kolostomi permanen.
Berbagai hal yang harus diajarkan pada pasien adalah:
•Teknik penggantian/ pemasangan kantong kolostomi yang baik dan benar
•Teknik perawatan stoma dan kulit sekitar stoma
•Waktu penggantian kantong kolostomi
•Teknik irigasi kolostomi dan manfaatnya bagi pasien
•Jadwal makan atau pola makan yang harus dilakukan untuk menyesuaikan
•Pengeluaran feses agar tidak mengganggu aktifitas pasien
•Berbagai jenis makanan bergizi yang harus dikonsumsi
•Berbagai aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien
•Berbagi hal/ keluhan yang harus dilaporkan segera pada dokter ( jika apsien sudah dirawat dirumah)
•Berobat/ control ke dokter secara teratur
•Makanan yang tinggi serat
Komplikasi kolostomi
1.Obstruksi/ penyumbatan
Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau adanya pengerasan feses yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari terjadinya sumbatan, pasien perlu dilakukan irigasi kolostomi secara teratur. Pada pasien dengan kolostomi permanen tindakan irigasi ini perlu diajarkan agar pasien dapat melakukannya sendiri di kamar mandi.
2.Infeksi
Kontaminasi feses merupakan factor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolstomi sangat bermakna untuk mencegah infeksi.
3.Retraksi stoma/ mengkerut
Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.
4.Prolaps pada stoma
Terjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur penyokong stoma yang kurang adekuat pada saat pembedahan.
5.Stenosis
Penyempitan dari lumen stoma
6.Perdarahan stoma
Perawatan kolostomi
Pengertian
Membersihkan stoma kolostomi, kulit sekitar stoma , dan mengganti kantong kolostomi secara berkala sesuai kebutuhan.
Tujuan
•Menjaga kebersihan pasien
•Mencegah terjadinya infeksi
•Mencegah iritasi kulit sekitar stoma
•Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkungannya
Persiapan pasien
•Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakan, dll
•Mengatur posisi tidur pasien (supinasi)
•Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden jendela, pintu, memasang penyekat tempat tidur (k/P), mempersilahkan keluarga untuk menunggu di luar kecuali jika diperlukan untuk belajar merawat kolostomi pasien
PERSIAPAN ALAT
1.Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang, dan kain persegi empat
2.Kapas sublimate/kapas basah, NaCl
3.Kapas kering atau tissue
4.1 pasang sarung tangan bersih
5.Kantong untuk balutan kotor
6.Baju ruangan / celemek
7.Bethadine (bila perlu) bila mengalami iritasi
8.Zink salep
9.Perlak dan alasnya
10.Plester dan gunting
11.Bila perlu obat desinfektan
12.bengkok
13.Set ganti balut
PERSIAPAN KLIEN
1.Memberitahu klien
2.Menyiapkan lingkungan klien
3.Mengatur posisi tidur klien
PROSEDUR KERJA
1.Cuci tangan
2.Gunakan sarung tangan
3.Letakkan perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri pasien sesuai letak stoma
4.Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien
5.Mengobservasi produk stoma (warna, konsistensi, dll)
6.Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien
7.Meletakan colostomy bag kotor dalam bengkok
8.Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma
9.Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas sublimat / kapas hangat (air hangat)/ NaCl
10.Mengeringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hati-hati menggunakan kassa steril
11.Memberikan zink salep (tipis-tipis) jika terdapat iritasi pada kulit sekitar stoma
12.Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma colostomy
13.Menempelkan kantong kolostomi dengan posisi vertical/horizontal/miring sesuai kebutuhan pasien
14.Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi
15.Merekatkan/memasang kolostomy bag dengan tepat tanpa udara didalamnya
16.Merapikan klien dan lingkungannya
17.Membereskan alat-alat dan membuang kotoran
18.Melepas sarung tangan
19.Mencuci tangan
20.Membuat laporan
Pengertian
•Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses (M. Bouwhuizen, 1991
•Pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses (Randy, 1987)
•Lubang yang dibuat melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan feses (Evelyn, 1991, Pearce, 1993)
Jenis – jenis kolostomi
Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun sementara.
•Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang)
•Kolostomi temporer/ sementara
Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomi double barrel.
Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga stoma tampak membesar.
Pasien dengan pemasangan kolostomi biasanya disertai dengan tindakan laparotomi (pembukaan dinding abdomen). Luka laparotomi sangat beresiko mengalami infeksi karena letaknya bersebelahan dengan lubang stoma yang kemungkinan banyak mengeluarkan feses yang dapat mengkontaminasi luka laparotomi, perawat harus selalu memonitor kondisi luka dan segera merawat luka dan mengganti balutan jika balutan terkontaminasi feses.
Perawat harus segera mengganti kantong kolostomi jika kantong kolostomi telah terisi feses atau jika kontong kolostomi bocor dan feses cair mengotori abdomen. Perawat juga harus mempertahankan kulit pasien disekitar stoma tetap kering, hal ini penting untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit dan untuk kenyamanan pasien.
Kulit sekitar stoma yang mengalami iritasi harus segera diberi zink salep atau konsultasi pada dokter ahli jika pasien alergi terhadap perekat kantong kolostomi. Pada pasien yang alergi tersebut mungkin perlu dipikirkan untuk memodifikasi kantong kolostomi agar kulit pasien tidak teriritasi.
Pendidikan pada pasien
Pasien dengan pemasangan kolostomi perlu berbagai penjelasan baik sebelum maupun setelah operasi, terutama tentang perawatan kolostomi bagi pasien yang harus menggunakan kolostomi permanen.
Berbagai hal yang harus diajarkan pada pasien adalah:
•Teknik penggantian/ pemasangan kantong kolostomi yang baik dan benar
•Teknik perawatan stoma dan kulit sekitar stoma
•Waktu penggantian kantong kolostomi
•Teknik irigasi kolostomi dan manfaatnya bagi pasien
•Jadwal makan atau pola makan yang harus dilakukan untuk menyesuaikan
•Pengeluaran feses agar tidak mengganggu aktifitas pasien
•Berbagai jenis makanan bergizi yang harus dikonsumsi
•Berbagai aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien
•Berbagi hal/ keluhan yang harus dilaporkan segera pada dokter ( jika apsien sudah dirawat dirumah)
•Berobat/ control ke dokter secara teratur
•Makanan yang tinggi serat
Komplikasi kolostomi
1.Obstruksi/ penyumbatan
Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau adanya pengerasan feses yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari terjadinya sumbatan, pasien perlu dilakukan irigasi kolostomi secara teratur. Pada pasien dengan kolostomi permanen tindakan irigasi ini perlu diajarkan agar pasien dapat melakukannya sendiri di kamar mandi.
2.Infeksi
Kontaminasi feses merupakan factor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolstomi sangat bermakna untuk mencegah infeksi.
3.Retraksi stoma/ mengkerut
Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.
4.Prolaps pada stoma
Terjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur penyokong stoma yang kurang adekuat pada saat pembedahan.
5.Stenosis
Penyempitan dari lumen stoma
6.Perdarahan stoma
Perawatan kolostomi
Pengertian
Membersihkan stoma kolostomi, kulit sekitar stoma , dan mengganti kantong kolostomi secara berkala sesuai kebutuhan.
Tujuan
•Menjaga kebersihan pasien
•Mencegah terjadinya infeksi
•Mencegah iritasi kulit sekitar stoma
•Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkungannya
Persiapan pasien
•Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakan, dll
•Mengatur posisi tidur pasien (supinasi)
•Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden jendela, pintu, memasang penyekat tempat tidur (k/P), mempersilahkan keluarga untuk menunggu di luar kecuali jika diperlukan untuk belajar merawat kolostomi pasien
PERSIAPAN ALAT
1.Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang, dan kain persegi empat
2.Kapas sublimate/kapas basah, NaCl
3.Kapas kering atau tissue
4.1 pasang sarung tangan bersih
5.Kantong untuk balutan kotor
6.Baju ruangan / celemek
7.Bethadine (bila perlu) bila mengalami iritasi
8.Zink salep
9.Perlak dan alasnya
10.Plester dan gunting
11.Bila perlu obat desinfektan
12.bengkok
13.Set ganti balut
PERSIAPAN KLIEN
1.Memberitahu klien
2.Menyiapkan lingkungan klien
3.Mengatur posisi tidur klien
PROSEDUR KERJA
1.Cuci tangan
2.Gunakan sarung tangan
3.Letakkan perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri pasien sesuai letak stoma
4.Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien
5.Mengobservasi produk stoma (warna, konsistensi, dll)
6.Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien
7.Meletakan colostomy bag kotor dalam bengkok
8.Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma
9.Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas sublimat / kapas hangat (air hangat)/ NaCl
10.Mengeringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hati-hati menggunakan kassa steril
11.Memberikan zink salep (tipis-tipis) jika terdapat iritasi pada kulit sekitar stoma
12.Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma colostomy
13.Menempelkan kantong kolostomi dengan posisi vertical/horizontal/miring sesuai kebutuhan pasien
14.Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi
15.Merekatkan/memasang kolostomy bag dengan tepat tanpa udara didalamnya
16.Merapikan klien dan lingkungannya
17.Membereskan alat-alat dan membuang kotoran
18.Melepas sarung tangan
19.Mencuci tangan
20.Membuat laporan
Rabu, 30 September 2009
Prosedur Melakukan Irigasi Telinga
INDIKASI
Untuk mengeluarkan cairan, serumen, bahan-bahan asing dari kanal audiotory eksternal.
Untuk mengirigasi kanal audiotory eksternal dengan lartutan antiseptic.
Untuk menghangatkan atau mendinginkan kanal audiotory eksterna.
PERHATIAN DAN KONTRA INDIKASI
Perforasi membran timpani atau resiko tidak utuh (injurie sekunder, pembedahan, miringitomi).
Terjadi komplikasi sebelum irigasi.
Temperatur yg ekstrim panas dapat menyebabkan pusing, mual dan muntah.
Bila ada benda penghisap air dalam telinga, seperti bahan sayuran (kacang), jangan diirigasi karena bahan2 tsb mengmbang dan sulit dikeluarkan.
PERSIAPAN KLIEN
Atur posisi klien dengan memiringkan kepala ke arah telinga.
Lindungi pakaian klien dengan handuk/bahan tahan air.
PERSIAPAN ALAT
Otologik syringe (metal) atau syringe 60 ml ukuran 18 atau 20 G, dan untuk anak-anak. (waterpik)
Baskom.
Handuk/alas tahan air.
Baskom/bengkok untuk muntah.
Otoskop.
Sarung tangan.
Termometer.
Kapas/kassa.
Cooton Tip (untuk anak-anak).
PERTIMBANGAN KHUSUS
Kanal telinga anak-anak lebih kecil.
Tarik aurikel ke bawah dan kebelakang.
Anak-anak posisi supinasi bila perlu di resraint untuk menghindari pergerkan.
Untuk mengurangi ansieas jelaskan prosedur dan izinkan anak-anak untuk menyentuh air atau mendengarkan suara air.
KOMPLIKASI
Vertigo, mual, nyeri selama dan setelah prosedur, stop segera bila terjadi, kemudian ulangi lagi dan pastikan tekanan dan temperatur yang cocok untuk mencegah berulangnya gejala.
Ruptur membran timpani.
Kehilangan pendengaran.
Trauma/injury kanal teling dalam.
P R O S E D U R
Bersihkan telinga luar.
Periksa telinga dg otoskop sebelum melakukan irigasi.
Isikan cairan irigasi ke dalam syringe (tarik/sedot) dan buang udara dlm syringe. Larutan bisa air, atau campuran air dan hidroegn peroksida, cairan disesuaikan dengan temperatur tubuh, cek dengan pergelangan tangan bagian dalam/gunakan termometer.
Minta klien untuk memegang bengkok.
Tarik aurikel ke atas dan keluarà telinga superior dan posterior (dewasa), tarik aurikel posterior dan inferior (anak di atas 3 tahun).
Lakukan irigasi dengan perlahan untuk mengurangi peningkatan tekanan.
Setelah irigasi , inspeksi kanal telinga untuk melihat kemajuan dari tindakan atau cek cairan irigasi yang keluar dari seruemn atau benda-benda asing
Ulangi irigasi sesuai kebutuhan, istirahatkan klien diantara irigasi.
Keringkan telingan dengan kapas, taruh kapas 5-10 menit untuk absorb dari kemungkinan lembab.
PENDIDIKAN KESEHATAN
Laporkan bila ada nyeri, mual, pusing, atau hilang pendengaran selama atau setelah prosedur.
Bersihkan telinga luar dengan menggunakan kain, sabun Dan air setiap hari.
Jangan memasukkan bahan-bahan ke dalam telinga.
Referensi:
Proehl JA (1999). Emergency Nursing Procedures (2 nd Edition). Philadelphia: W.B. Saunders Company
Untuk mengeluarkan cairan, serumen, bahan-bahan asing dari kanal audiotory eksternal.
Untuk mengirigasi kanal audiotory eksternal dengan lartutan antiseptic.
Untuk menghangatkan atau mendinginkan kanal audiotory eksterna.
PERHATIAN DAN KONTRA INDIKASI
Perforasi membran timpani atau resiko tidak utuh (injurie sekunder, pembedahan, miringitomi).
Terjadi komplikasi sebelum irigasi.
Temperatur yg ekstrim panas dapat menyebabkan pusing, mual dan muntah.
Bila ada benda penghisap air dalam telinga, seperti bahan sayuran (kacang), jangan diirigasi karena bahan2 tsb mengmbang dan sulit dikeluarkan.
PERSIAPAN KLIEN
Atur posisi klien dengan memiringkan kepala ke arah telinga.
Lindungi pakaian klien dengan handuk/bahan tahan air.
PERSIAPAN ALAT
Otologik syringe (metal) atau syringe 60 ml ukuran 18 atau 20 G, dan untuk anak-anak. (waterpik)
Baskom.
Handuk/alas tahan air.
Baskom/bengkok untuk muntah.
Otoskop.
Sarung tangan.
Termometer.
Kapas/kassa.
Cooton Tip (untuk anak-anak).
PERTIMBANGAN KHUSUS
Kanal telinga anak-anak lebih kecil.
Tarik aurikel ke bawah dan kebelakang.
Anak-anak posisi supinasi bila perlu di resraint untuk menghindari pergerkan.
Untuk mengurangi ansieas jelaskan prosedur dan izinkan anak-anak untuk menyentuh air atau mendengarkan suara air.
KOMPLIKASI
Vertigo, mual, nyeri selama dan setelah prosedur, stop segera bila terjadi, kemudian ulangi lagi dan pastikan tekanan dan temperatur yang cocok untuk mencegah berulangnya gejala.
Ruptur membran timpani.
Kehilangan pendengaran.
Trauma/injury kanal teling dalam.
P R O S E D U R
Bersihkan telinga luar.
Periksa telinga dg otoskop sebelum melakukan irigasi.
Isikan cairan irigasi ke dalam syringe (tarik/sedot) dan buang udara dlm syringe. Larutan bisa air, atau campuran air dan hidroegn peroksida, cairan disesuaikan dengan temperatur tubuh, cek dengan pergelangan tangan bagian dalam/gunakan termometer.
Minta klien untuk memegang bengkok.
Tarik aurikel ke atas dan keluarà telinga superior dan posterior (dewasa), tarik aurikel posterior dan inferior (anak di atas 3 tahun).
Lakukan irigasi dengan perlahan untuk mengurangi peningkatan tekanan.
Setelah irigasi , inspeksi kanal telinga untuk melihat kemajuan dari tindakan atau cek cairan irigasi yang keluar dari seruemn atau benda-benda asing
Ulangi irigasi sesuai kebutuhan, istirahatkan klien diantara irigasi.
Keringkan telingan dengan kapas, taruh kapas 5-10 menit untuk absorb dari kemungkinan lembab.
PENDIDIKAN KESEHATAN
Laporkan bila ada nyeri, mual, pusing, atau hilang pendengaran selama atau setelah prosedur.
Bersihkan telinga luar dengan menggunakan kain, sabun Dan air setiap hari.
Jangan memasukkan bahan-bahan ke dalam telinga.
Referensi:
Proehl JA (1999). Emergency Nursing Procedures (2 nd Edition). Philadelphia: W.B. Saunders Company
Selasa, 08 September 2009
FORMAT PENGKAJIAN BAYI
I. BIODATA
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku/bangsa
Pendidikan
Tanggal masuk RS
Tanggal Pengkajian
Diagnosa Medis
Alamat
Identitas Penanggung jawab
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Suku/bangsa
Pendidikan Ayah
Pendidikan Ibu
Hubungan dengan Klien
Alamat
II. KELUHAN UTAMA
III. RIWAYAT KESEHATAN
A. Riwayat Kehamilan dan kelahiran
1. Prenatal :
Jumlah kunjungan
Bidan/dokter
Penkes yang didapat
HPHT
Kenaikan BB selama hamil
Komplikasi kehamilan
Komplikasi obat
Riwayat hospitalisasi
Gol. Darah ibu
Maternal screening : Rubella, hepatitis, CMV, herpes, HIV, dll sebutkan
2. Intranatal :
Awal persalinan
Lama persalinan
Komplikasi persalinan
Terapi yang diberikan
Cara melahirkan
Tempat melahirkan
3. Pos Natal :
Usaha napas (dengan bantuan/tanpa bantuan)
Kebutuhan resusitasi (jenis & lamanya)
APGAR Score
Obat yang diberikan pada neonatus
Interaksi orang tua dan bayi (kualitas, lamanya),
Trauma lahir (ada/tidak)
Keluar urine/feses (ada/tidak).
B. Riwayat imunisasi
IV. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesadaran :
Vital sign :
GCS :
2. Antropometri
Berat badan :
Panjang badan :
Lingkar kepala :
3. Kepala :
Kebersihan
Bentuk Kepala
Keadaan rambut
Keadaan kulit kepala
Fontanela anterior (lunak, menonjol, tegas, cekung, datar ?)
Sutura sagitalis (tepat, terpisah, menjauh ?)
Gambaran wajah (simetris, asimetris?)
Molding (Caput succedaneum), Cefalohematom?)
4. Mata :
Kebersihan
Peradangan
Scelera
Pupil
Gerak bola mata
Konjungtiva
5. Hidung :
Kebersihan
Struktur
Polip
Perdarahan
Peradangan
6. Telinga :
Kebersihan
Struktur
Cairan
Tanda peradangan
7. Mulut :
Kebersihan
Problem menelan
Rongga mulut (Palatum keras dan lunak?)
Fungsi pengecap
8. Leher :
Vena jugularis
Arteri karotis
Pembesaran tiroid
Pembesaran limfe
9. Dada :
Bentuk dada
Pergerakan/pengembangan torak
Batuk
Sputum
Resonansi
Bunyi napas
Bunyi napas tambahan
10. Jantung :
Denyut jantung
Bunyi jantung
11. Abdomen :
Lingkar perut
Warna kulit
Bunyi peristaltic
Keadaan permukaan abdomen
Pembesaran abdomen
12. Genitalia :
Kebersihan
Keadaan kelamin luar
Anus (paten, imperforata?)
13. Ekstrimitas atas dan bawah :
Struktur
Kekuatan otot
Trauma
14. Kulit :
Kebersihan
Struktur
Turgor
Warna
Kelembaban
Lesi
14. Refleks
Menghisap
Menggenggam
Moro
Rooting
Tonik neck
V. KEBUTUHAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL
1. Nutrisi
Frekuensi, waktu makan, nafsu makan, jenis makanan, makanan alergi/pantangan
Di RS :
2. Eliminasi (BAB/BAK)
Frekuensi, warna, konsistensi, keluhan berhubungan dengan BAK/BAB, penggunaan laxantif/obat lain
Di RS :
3. Personal hygine
Mandi, cuci rambut
Di RS :
4. Istirahat/tidur
Lama, tidur siang
Di RS :
5. Aktivitas
Kegiatan waktu luang
Di RS
6. Psikososial
a. Bagaimana hubungan klien dengan tenaga kesehatan/keperawatan selama dirawat
b. Hubungan dengan orang tua
Ibu Ayah
Menyentuh
Memeluk
Berbicara
Berkunjung
Kontak mata
VI. DATA PENUNJANG
1. Radiologi
2. Laboratorium
3. Pemeriksaan lainnya
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku/bangsa
Pendidikan
Tanggal masuk RS
Tanggal Pengkajian
Diagnosa Medis
Alamat
Identitas Penanggung jawab
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Suku/bangsa
Pendidikan Ayah
Pendidikan Ibu
Hubungan dengan Klien
Alamat
II. KELUHAN UTAMA
III. RIWAYAT KESEHATAN
A. Riwayat Kehamilan dan kelahiran
1. Prenatal :
Jumlah kunjungan
Bidan/dokter
Penkes yang didapat
HPHT
Kenaikan BB selama hamil
Komplikasi kehamilan
Komplikasi obat
Riwayat hospitalisasi
Gol. Darah ibu
Maternal screening : Rubella, hepatitis, CMV, herpes, HIV, dll sebutkan
2. Intranatal :
Awal persalinan
Lama persalinan
Komplikasi persalinan
Terapi yang diberikan
Cara melahirkan
Tempat melahirkan
3. Pos Natal :
Usaha napas (dengan bantuan/tanpa bantuan)
Kebutuhan resusitasi (jenis & lamanya)
APGAR Score
Obat yang diberikan pada neonatus
Interaksi orang tua dan bayi (kualitas, lamanya),
Trauma lahir (ada/tidak)
Keluar urine/feses (ada/tidak).
B. Riwayat imunisasi
IV. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesadaran :
Vital sign :
GCS :
2. Antropometri
Berat badan :
Panjang badan :
Lingkar kepala :
3. Kepala :
Kebersihan
Bentuk Kepala
Keadaan rambut
Keadaan kulit kepala
Fontanela anterior (lunak, menonjol, tegas, cekung, datar ?)
Sutura sagitalis (tepat, terpisah, menjauh ?)
Gambaran wajah (simetris, asimetris?)
Molding (Caput succedaneum), Cefalohematom?)
4. Mata :
Kebersihan
Peradangan
Scelera
Pupil
Gerak bola mata
Konjungtiva
5. Hidung :
Kebersihan
Struktur
Polip
Perdarahan
Peradangan
6. Telinga :
Kebersihan
Struktur
Cairan
Tanda peradangan
7. Mulut :
Kebersihan
Problem menelan
Rongga mulut (Palatum keras dan lunak?)
Fungsi pengecap
8. Leher :
Vena jugularis
Arteri karotis
Pembesaran tiroid
Pembesaran limfe
9. Dada :
Bentuk dada
Pergerakan/pengembangan torak
Batuk
Sputum
Resonansi
Bunyi napas
Bunyi napas tambahan
10. Jantung :
Denyut jantung
Bunyi jantung
11. Abdomen :
Lingkar perut
Warna kulit
Bunyi peristaltic
Keadaan permukaan abdomen
Pembesaran abdomen
12. Genitalia :
Kebersihan
Keadaan kelamin luar
Anus (paten, imperforata?)
13. Ekstrimitas atas dan bawah :
Struktur
Kekuatan otot
Trauma
14. Kulit :
Kebersihan
Struktur
Turgor
Warna
Kelembaban
Lesi
14. Refleks
Menghisap
Menggenggam
Moro
Rooting
Tonik neck
V. KEBUTUHAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL
1. Nutrisi
Frekuensi, waktu makan, nafsu makan, jenis makanan, makanan alergi/pantangan
Di RS :
2. Eliminasi (BAB/BAK)
Frekuensi, warna, konsistensi, keluhan berhubungan dengan BAK/BAB, penggunaan laxantif/obat lain
Di RS :
3. Personal hygine
Mandi, cuci rambut
Di RS :
4. Istirahat/tidur
Lama, tidur siang
Di RS :
5. Aktivitas
Kegiatan waktu luang
Di RS
6. Psikososial
a. Bagaimana hubungan klien dengan tenaga kesehatan/keperawatan selama dirawat
b. Hubungan dengan orang tua
Ibu Ayah
Menyentuh
Memeluk
Berbicara
Berkunjung
Kontak mata
VI. DATA PENUNJANG
1. Radiologi
2. Laboratorium
3. Pemeriksaan lainnya
Langganan:
Postingan (Atom)
