PENGERTIAN
Tifus abdominalis adalah (demam tifoid) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.
PENYEBAB
Bakteri Salmonella Tyhposa, Basil gram negative, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai 3 macam antigen O (somatic/tubuh kuman), antigen H(flagella) dan antigen Vi (simpai kuman)
PENULARAN
Melalui mulut oleh makanan atau air yang trcemar kuman Bakteri Salmonella Tyhposa.
EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia masih endemic Tifus abdominalis, sering terjadi pada anak usia diatas 1 tahun
Tahun 1985 insiden tifus abdominalis pada anak 0-4 th (25,32%), 5-9 th (35,59%), 10-14 th (39,09%)
Di RSUD Ulin ruang perawatan anak urutan 3 dari 10 besar penyakit.
Semua basil salmonella bersifat serupa :
1.Tuan rumah (host) : untuk jenis salmonella typhosa dan salmonella paratypy A, B dan C adalah manusia
2.dapat tahan hidup untuk waktu yang lama dan berkembang biak dalam makanan seperti daging, telur, sayuran, susu dan air terutama jika udara panas.
3.kontaminasi dari pembuat dan pedangang makanan, lalat atau ekskreta binatang mengerat
PATOGENISIS (PERJALANAN PENYAKIT)
TANDA DAN GEJALA
- Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan pasien dewasa
- Masa tunas (inkubasi) rata-rata 10-20 hari
- Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat
- Kemudian menyusul gejala klinis yang sering ditemukan :
- Demam −Demam dapat berlangsung selama 3 minggu −Bersifat febris remiten −Minggu I, suhu berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya turun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari −Minggu II, pasien terus dalam keadaan demam −Minggu III, suhu berangsur-angsur turun dan normal kembali padaakhir minggu III
- Gangguan pada saluran pencernaan −Mulut : napas berbau −Bibir kering dan pecah-pecah −Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan −Abdomen : dapat ditemukan perut kembung (meteorismus) −Hati dan limpa membesar disertai nyeri tekan −Dapat terjadi diare/konstipasi 3.Gangguan kesadaran −Apatis sampai somnolen
- Pemeriksaan darah tepi −Terdapat leukopeni pada permulaan sakit −Anemia −Trombositopeni
- Darah untuk kultur (Biakan empedu) −Merupakan pemeriksaan yang dapat menentukan diagnosis pasti dari tifus abdominalis. −Basil salmonella tyhposa dapat ditemukan dalam darah pasien biasanya minggu pertama sakit
- Pemeriksaan Widal test −Widal test adalah suatu reaksi antara antigen dan antibody (aglutinin). −Bila terjadi serum dicampur dengan suspensi antigen salmonella typosa, dinyatakan positif bila terjadi reaksi aglutinasi dengan jalan mengencerkan serum, maka kadar zat anti dapat ditentukan. −Jika nilai titer 1/200 atau lebih untuk aglutinin O dan titer 1/800 untuk aglutinin H −Atau kenaikan titer 4 kali pada pemeriksaan ke 2 dengan selang waktu 5-10 hari.
Mengapa diagnosis tifus abdominalis lebih banyak titer O dan tidak titer H ?
−Dapat menunjukkan positif semu
−Titer H dapat tetap tinggi setelah mendapat imunisasi atau pasien yang telah lama sembuh
−Titer O dan H tinggi karena terdapat agglutinin normal karena infeksi basil E. Coli pada usus
−Pada neonatus zat anti tersebut diperoleh dari ibu melalui tali pusat
−Jika terdapat infeksi silang dengan Rickettsia (mikroorganisme kokobasil yang lebih kecil dari bakteri, biasanya dalam badan tungau menyebabkan demam)
−Akibat imunisasi secara alamiah.
4.Pemeriksaan urin dan feces
−Pemeriksaan positif pada minggu II &III pada feces dapat mengandung kuman salmonella, sedangkan urine pada minggu III.
−Pemeriksaan negative biasanya untuk memastikan pasien sudah benar-benar sembuh dan tidak menjadi pembawa kuman (carier)
KOMPLIKASI
- Pada usus halus :
- Perdarahan usus
- Perforasi usus
- Ileus paralitik
- Peritonitis
- Komplikasi di luar usus
- Kardiovaskuler : syok sepsis, miokarditis, trobosis dan tromboplebitis
- Darah : anemia hemolitik, trobositopeni
- Paru : pneumonia, empema dan pleuritis
- Hepar dan kandung empedu : hepatitis dan kolesistitis
- Ginjal : glumeluronefritis, pielonefritis dan perinefritis
- Tulang : osteomielitis, periostitis, arthritis
- Neurology : Meningitis, encefalopaty
Medik
Pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus dianggap dan diperlakukan
langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan diberikan pengobatan sebagai berikut :
- Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan eskreta
- Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi
- Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan di ruangan
- Diet.
- Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein.
- Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan menimbulkan gas
- Susu 2 gelas sehari. Bila kesadaran pasien menurun diberikan makanan cair melaui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan baik dapat juga diberikan manakan lunak
6. Bila terjadi komplikasi terapi disesuaikan dengan penyakitnya.
Keperawatan
- Tifus abdominalis merupakan penyakit menular sehingga pasien harus dirawat di kamar isolasi yang dilengkapi dengan peralatan untuk merawat pasien yang menderita penyakit menular seperti : desinfektan untuk mencuci tangan, merendam pakaian kotor dan pot/urinal bekas pakai pasien. Yang merawat pasien agar memakai celemek.
- Masalah pasien yang tifus abdominalis yang perlu diperhatikan adalah : −Kebutuhan nutrisi/cairan dan elektrolit −Peningkatan suhu tubuh −Gangguan rasa aman dan nyaman −Resiko terjadinya komplikasi −Kurangnya pengetahuan orang tua
1.Kebutuhan nutrisi/cairan dan elektrolit
Ganguan kesadaran, anoreksia dan demam
kurang masukan makanan/cairan
kurangnya kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan
memudahkan timbulnya komplikasi.
Adanya tukak pada usus halus
Jenis makanan disesuaikan
Makanan yang diberikan : cukup mengandung cairan, rendah serat, tinggi protein dan kalori serta tidak menimbulkan gas.
Pemberian melihat keadaan pasien :
- Jika kesaran pasien baik, diberikan makanan lukan dengan lauk pauk dicincang (hati/daging). Sayuran labu siam/wortel dimasak lunak sekali. Boleh juga diberi tahu, telur ½ matang direbus. Susu diberikan 2x 1 gelas/lebih. Jika makanan tidak dihabiskan diberikan ekstra susu.
- Pasien yang kesadaran menurun sekali. Diberikan makanan cair per sonde, kalori sesuai dengan kebutuhan. Pemberian diatur setiap 3 jam termasuk makanan ekstra seperti sari buah, bubur kacang hijau yang dihaluskan. Jika kesaran membaik makanan beralih secara bertahap (dari cair ke lunak)
- Jika pasien payah Dipasang infuse dengan cairan glukosa dan NaCl. Jika keadaan sudah tenang berikan makanan per sonde disamping infuse masih diteruskan. Makanan per sonde biasanya ½ dari jumlah kalori, ½ nya masih per infus.
2. Peningkatan suhu tubuh
−Suhu meningkat terjadi penguapan berakibat cairan tubuh berkurang => gelisah, selaput lendir mulut dan bibir kering dan pecah-pecah => Berikan intake cairan (boleh minum sirop, the manis atau apa saja yang disukai”)
- Ruangan diatur agar cukup ventilasi
- Berikan kompres
- Jangan diberikan selimut tebal
- Jika menggunakan kipas angina usahakan agar kipas angina tidak langsung mengenai tubuh pasien.
- Selaput lendir mulut dan bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor
- Berikan perawatan mukosa mulut dan bibir 2 kali sehari.
- Perawatan personal hygine
- Pasien yang apatis
- Ajak untuk berkomunikasi
- Rasa kesemutan saat mulai berjalan akibat lama berbaring
- Sebelum mulai berjalan harus mulai dengan menggoyang-goyangkan kaki sambil duduk di pinggir tempat tidur, kemudian berjalan disekitar tempat tidur sambil berpegangan. Hilang setelah 2-3 hari mobilisasi.
4.Resiko terjadi komplikasi
Yang perlu diperhatikan untuk mencegah komplikasi adalah :
a. Obat ; Yang pokok adalah kloramfenicol, dosis 100 mg/KgBB/hari diberikan 4 x sehari
b. Istirahat
−Istirahat total selama demam, kemudian diteruskan 2 minggu lagi setelah suhu normal
−Setelah 1 minggu suhu normal 3 hari kemudia pasien dilatih duduk; jika tidak timbul demam lagi boleh duduk dipinggir tempat tidur sambil kaki digoyangkan.
−Pada akhir mingu ke 2 jika tidak ada demam boleh belajar jalan mengelilingi tempat tidur.
c. Pengawasan komplikasi
Perdarahan Usus
Tanda :
- Dapat terjadi saat demam masih tinggi
- Suhu mendadak turun
- Nadi meningkat cepat dan kecil
- Tekanan daran menurun
- Pasien tampak pucat
- Kulit teraba lembab
- Kesadaran makin menurun
- Jika perdarahan berat terlihat Melena (feces berwarna hitam)
Tindakan:
- Hentikan makan dan minum
- Segera pasang infus (jika belum terpasang)
- Berikan kompres dingin sekitar perut
- Hubungi dokter Perforasi usus : Dapat terjadi pada minggu III Tanda :
- Pasien mengeluh sakit perut hebat dan nyeri tekan
- Pucat, kerinngat dingin, nadi kecil.
Tindakan :
−Hubungi dokter siapkan foto roentgen
−Pasang infus, hentikan makan dan minum
Komplikasi lain seperti ; Pneumonia hipostatik akibat bedrest
Tanda :
−Suhu mendadak tinggi
−Sesak napas
Tindakan pencegahan : perubahan sikap berbaring tiap 2-3 jam
5. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit
Jelaskan tentang cara perawatan pasien dirumah :
- Penyebab dan cara penularan penyakit typhus abdominal
- Pentingnya menjaga kesehatan
- Anak yang sudah sekolah supaya dinasehatkan jangan membeli makanan yang tidak ada tutup/yang tidak bersih
- Pasien tidak boleh tidur dengan pasien lain
- Pasien harus istirahat mutlak/bedrest total sampai demam turun masih dilanjutkan selama 2 minggu. Aktivitas seperti BAK/BAB harus ditolong di atas tempat tidur.
- Pemberian obat
- Pembuangan feces dan urin harus dibuang ke dalam lobang WC dan disiram sebanyak-banyaknya
- Cegah adanya vector pathogen
PROGNOSIS
- Umumnya pada anak baik asal cepat berobat.
- Angka motalitas pada pasien yang dirawat ialah 60%.
- Prognosis buruk/kurang baik bila terdapat gejala klinis :
- Panas tinggi (hiperpireksia) atau febris continue
- Kesadaran menurun sekali yaitu stupor, koma atau delirium
- Komplikasi berat : dehidrasi, asidosis, perforasi, peritonitis, bronchopneumonia
- Gizi buruk
Relap (kambuh)
Karena terdapat basil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat atau zat anti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar